Karena kondisi tersebut, jumlah personel yang masuk ke area gerbong juga dibatasi demi menjaga keselamatan petugas maupun korban yang masih bertahan hidup.
Untuk mengevakuasi korban yang masih terjepit, Basarnas menerapkan metode ekstrikasi dengan teknik pemotongan rangkaian kereta secara bertahap.
Langkah ini dilakukan dengan sangat hati-hati agar tidak memperparah kondisi korban yang masih berada di dalam gerbong.
Syafii menegaskan, petugas tidak langsung menggeser rangkaian kereta karena masih terdapat korban yang diduga masih hidup di lokasi sempit tersebut.
Selain itu, proses evakuasi dilakukan tanpa henti dengan sistem pergantian personel agar pencarian tetap berjalan maksimal selama 24 jam.
Petugas juga terus menyisir seluruh gerbong untuk memastikan tidak ada korban yang tertinggal di dalam rangkaian kereta.
Sebelumnya, kecelakaan ini melibatkan KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir–Surabaya Pasarturi dengan rangkaian KRL Commuter Line di area Stasiun Bekasi Timur pada Senin malam sekitar pukul 20.55 WIB.
Benturan terjadi saat kedua kereta berada di jalur yang sama, memicu kepanikan besar di kalangan penumpang dan menyebabkan perjalanan kereta di lintas Bekasi sempat lumpuh total.
Hingga kini, penyebab pasti kecelakaan masih dalam proses investigasi oleh pihak berwenang. Fokus utama saat ini masih tertuju pada proses penyelamatan korban dan pemulihan jalur perjalanan kereta api.















