“Perkembangan situasi geopolitik global tentu perlu kita antisipasi bersama. Kinerja ekspor industri manufaktur Indonesia selama ini sangat dipengaruhi oleh stabilitas ekonomi global dan permintaan pasar internasional,” ungkap Agus.
Strategi Pemerintah Perkuat Industri Nasional
Meski menghadapi tantangan global, pemerintah menegaskan telah menyiapkan sejumlah langkah antisipatif untuk menjaga ketahanan sektor industri nasional.
Salah satu strategi yang ditempuh adalah memperkuat struktur industri hulu serta meningkatkan penggunaan bahan baku dalam negeri.
“Penguatan industri hulu dan peningkatan penggunaan produk dalam negeri menjadi sangat penting agar industri manufaktur Indonesia tidak terlalu bergantung pada pasokan global yang rentan terhadap gejolak geopolitik,” jelasnya.
Selain itu, pemerintah juga mendorong efisiensi penggunaan energi di sektor industri serta mempercepat transformasi menuju industri hijau.
Langkah tersebut dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil yang harganya sangat dipengaruhi oleh dinamika geopolitik global.
Dukung Program Prioritas Presiden
Upaya penguatan industri nasional juga sejalan dengan program prioritas Presiden Prabowo Subianto yang menitikberatkan pada penguatan ketahanan pangan dan energi nasional.
Menurut Agus, program swasembada pangan dan energi tidak dapat dilepaskan dari peran penting sektor industri manufaktur.
“Program ketahanan pangan dan ketahanan energi yang menjadi prioritas Presiden Prabowo merupakan langkah strategis untuk memperkuat kemandirian ekonomi nasional. Industri manufaktur memiliki peran penting dalam mendukung upaya tersebut, mulai dari penyediaan sarana produksi pertanian, industri pupuk, alat dan mesin pertanian, hingga pengembangan teknologi energi,” jelasnya.
Sektor industri memiliki peran besar dalam mendukung swasembada pangan melalui industri pupuk, alat dan mesin pertanian (alsintan), pengolahan pangan, hingga industri kemasan.
Selain itu, industri manufaktur juga berperan dalam pengembangan teknologi energi baru dan terbarukan, produksi komponen pembangkit listrik, pengembangan kendaraan listrik, hingga industri petrokimia yang menjadi bagian penting dari rantai pasok energi.
“Kemenperin terus mendorong penguatan industri hulu dan hilir agar Indonesia semakin mandiri dalam memenuhi kebutuhan strategis nasional, termasuk di bidang pangan dan energi. Dengan struktur industri yang semakin kuat, Indonesia akan memiliki daya tahan yang lebih baik terhadap gejolak ekonomi global akibat konflik geopolitik,” kata Agus.
Dalam konteks tersebut, Kemenperin juga terus memperkuat kebijakan peningkatan penggunaan produk dalam negeri (P3DN) serta pengembangan rantai pasok industri domestik untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan baku.
Pemerintah juga mendorong percepatan transformasi industri menuju industri hijau serta peningkatan efisiensi energi di sektor manufaktur guna meningkatkan daya saing di pasar global.
Menperin optimistis sektor industri manufaktur Indonesia tetap memiliki ketahanan yang kuat di tengah dinamika ekonomi global.
“Kami optimistis bahwa dengan penguatan struktur industri nasional serta dukungan terhadap program ketahanan pangan dan energi, sektor industri manufaktur Indonesia akan tetap mampu tumbuh dan berdaya saing meskipun menghadapi berbagai tantangan global,” pungkas Agus.













