“Parlemen butuh lebih banyak figur seperti Mbak Saras, yang menghadirkan energi baru sekaligus kedekatan dengan masyarakat. Kehadirannya memperkuat harapan regenerasi politik yang sehat,” lanjutnya.
Menurut Uly, keputusan mundur Saraswati menjadi alarm penting bagi partai politik agar lebih serius membuka ruang partisipasi anak muda dalam struktur pengambilan keputusan.
Ia menekankan, regenerasi politik bukan sekadar formalitas, melainkan kebutuhan strategis bangsa.
“Kehadiran generasi muda di parlemen tidak boleh dianggap sebagai simbol belaka. Itu adalah bagian dari strategi besar untuk menghadirkan kebijakan yang lebih responsif dan berpihak pada kepentingan rakyat,” tegas Uly.













