News  

KAI Resmikan Patung Raden Soetedjo di Stasiun Purwokerto, Ini Pencipta Lagu Di Tepinya Sungai Serayu

KAI Daop 5 Purwokerto meresmikan Patung Raden Soetedjo di area boarding Stasiun Purwokerto, Rabu (21/10/2026), sebagai bentuk penghargaan atas kontribusinya bagi musik dan budaya Banyumas. Foto: Darmawan/MyInfo
banner 120x600

“Kami sekeluarga merasa sangat terharu dan berterima kasih atas apresiasi yang diberikan KAI kepada Raden Soetedjo. Bagi keluarga, karya beliau merupakan bagian dari warisan budaya yang patut terus dikenang. Kami berharap keberadaan sudut ini dapat membuat masyarakat semakin mengenal sosok beliau dan mencintai musik serta kebudayaan Banyumas,” ungkap Artika.

Selama ini, keputusan keluarga untuk tidak menarik royalti atas lagu Di Tepinya Sungai Serayu turut menjaga kedekatan karya tersebut dengan masyarakat. Lagu itu telah menjadi penanda khas yang akrab didengar penumpang ketika tiba di Stasiun Purwokerto.

Melalui kerja sama dengan YLBR, KAI Daop 5 Purwokerto berharap keterlibatan sektor transportasi, komunitas pelestari sejarah, keluarga seniman, dan pekerja seni dalam menjaga warisan budaya dapat terus berlanjut.

Raden Soetedjo lahir di Banyumas pada 15 Oktober 1909. Ayah kandungnya bernama Poerwadibroto. Namun, ia kemudian diasuh oleh pamannya, Raden Soemandar, yang bekerja di pabrik gula Klampok, Distrik Purwareja, Banyumas, yang kini masuk wilayah Banjarnegara.

Soetedjo bercita-cita mengabdikan hidupnya untuk musik. Ia menempuh pendidikan di Konservatori Musik Roma, Italia, yang turut membentuk kemampuannya sebagai komponis.

Selain Di Tepinya Sungai Serayu, sejumlah karya yang dikenal antara lain Tidurlah Intan, Melati Pesanku, Selamat Berjuang, Keroncong Senja, Hamba Menyanyi, dan Juwita Malam.

Pada 1946, Soetedjo tercatat menjabat sebagai Direktur Musik RRI Purwokerto. Dua tahun kemudian, ia memelopori pendirian Orkes Studio Djakarta (OSD), yang terlibat dalam perekaman lagu Indonesia Raya dan menjadi cikal bakal Jakarta Philharmonic Orchestra.

Pada 1950, Soetedjo bergabung dengan Korps Musik Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) hingga memperoleh pangkat kehormatan Letnan Muda Udara 1 AURI. Ia juga menerima penghargaan bidang seni dari Gubernur Jakarta Ali Sadikin pada 1968.

Raden Soetedjo wafat di Jakarta pada 12 April 1960 dalam usia 50 tahun. Ia dimakamkan di TPU Karet, Jakarta. Namanya kemudian diabadikan oleh Pemerintah Kabupaten Banyumas sebagai nama Taman Budaya Soetedja.

Related Images:

Follow WhatsApp Channel My Info untuk update berita terkini setiap hari! Follow