PURWOKERTO, MyInfo.ID – Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) kembali menggelar International Culinary Festival yang menghadirkan keberagaman budaya dari 22 negara, Selasa (28/4/2026). Acara yang berlangsung di Auditorium Ukhuwah Islamiyah ini menjadi magnet bagi masyarakat sekaligus mempertegas langkah UMP menuju kampus berkelas dunia.
Festival kuliner internasional ini tidak hanya menyuguhkan aneka makanan khas berbagai negara, tetapi juga menjadi ruang interaksi lintas budaya antara mahasiswa asing, sivitas akademika, dan masyarakat Banyumas. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian peringatan Milad ke-61 UMP.
Rektor UMP, Jebul Suroso, menegaskan bahwa keberagaman merupakan kekuatan utama dalam membangun lingkungan akademik global.
“Kampus akan selalu mendukung kalian, karena bagi kami perbedaan bukanlah sebuah masalah, ‘Diversity is beauty. Diversity is exciting. Diversity is strength’. Hal ini sangat sejalan dengan visi universitas untuk meningkatkan internasionalisasi dan membawa UMP menuju World Class University,” ungkap Prof. Dr. Jebul Suroso, dalam nketerangannya, Jumat (1/5/2026).
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa festival ini bukan sekadar agenda seremonial, melainkan bagian dari strategi besar UMP dalam memperluas jejaring global.
Ketua panitia, Fitri Rahkmawati, menyebut festival tahun ini melibatkan perwakilan dari 22 negara, mulai dari Indonesia hingga negara-negara di Afrika, Asia, dan Eropa.
“Acara ini merupakan platform di mana cita rasa bertemu dengan budaya, dan kreativitas bertemu dengan tradisi. Para pengunjung tidak hanya bisa menikmati makanan lokal Indonesia seperti dawet ayu dan cenil, tetapi juga sajian internasional seperti chicken biryani dari Pakistan, chicken adobo dari Filipina, gobe dari Ghana, hingga bua loy dari Thailand,” paparnya.
Keberagaman menu tersebut menjadi daya tarik utama, sekaligus memperkaya pengalaman lintas budaya bagi pengunjung.
Kepala Biro Kerjasama dan Urusan Internasional UMP, Condro Nur Alim, menegaskan bahwa festival ini memiliki misi yang lebih luas dibanding sekadar pameran makanan.
“Acara ini bukan hanya sekadar ajang eksposur makanan dan minuman semata. Ini adalah momen yang tepat untuk membangun ikatan antarmahasiswa internasional, bertukar budaya, dan bersama-sama menciptakan dunia yang lebih baik serta lebih kuat,” jelasnya.
Tercatat hampir 100 mahasiswa internasional terlibat dalam gelaran keempat festival ini. Kehadiran pengunjung dari berbagai kalangan, mulai dari pelajar hingga masyarakat umum, turut memperkuat interaksi sosial dan budaya.















