Upaya peningkatan produksi dilakukan melalui berbagai strategi, mulai dari penerapan teknologi lanjutan, reaktivasi sumur yang tidak aktif, hingga eksplorasi wilayah baru, terutama di kawasan Indonesia Timur.
Salah satu temuan penting berasal dari sumur Geliga-1 di Blok Ganal, lepas pantai Kalimantan Timur. Blok ini dioperasikan oleh Eni dan Sinopec.
“Satu tahun setengah kita melakukan eksplorasi, kita dapat lagi gas di Kalimantan Timur, namanya Geliga. Itu 5 TCF, 5 triliun mm. Dengan mendapatkan 300 juta kondensat, ekuivalen dengan 375 juta barel minyak. Ini akan produksi di 2028-2029,” jelasnya.
Selain meningkatkan produksi, pemerintah juga fokus menekan impor bahan bakar minyak (BBM), khususnya solar. Salah satu langkah strategisnya adalah percepatan implementasi biodiesel B50.
Program ini ditargetkan mulai berlaku secara nasional pada 1 Juli 2026 dan diyakini mampu mengurangi ketergantungan impor secara signifikan.
“Kebutuhan kita, BBM solar, pada tahun 2026, itu kita butuh kurang lebih sekitar 40 juta kiloliter. Dari 40 juta kiloliter ini, kita dengan B40 dan B50, Alhamdulillah mulai tahun 2026, tidak lagi kita melakukan impor solar pertama sejak Republik ini berdiri. Dari solar kita sudah tidak impor,” jelas Bahlil.
Tak hanya BBM, pemerintah juga berupaya menekan impor LPG melalui pengembangan energi alternatif seperti Dimetil Eter (DME) dan Compressed Natural Gas (CNG).
CNG sendiri mulai banyak dimanfaatkan di berbagai sektor, termasuk industri perhotelan, restoran, hingga Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG). Sumber energi ini berasal dari dalam negeri sehingga dinilai lebih efisien dan berkelanjutan.















