Menurutnya, penggunaan AI tidak hanya membuat proses produksi lebih efisien, tetapi juga membuka peluang baru dalam penyebaran konten budaya.
“Terkait dengan cerita, kami tim pembuat film sudah berkoordinasi dan meminta arahan dari beberapa tokoh di Banyumas yaitu Sejarahwan Banyumas Prof Sugeng Priyadi dan Budayawan Banyumas Bapak Ahmad Tohari. Kami juga berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Banyumas dalam hal ini Kantor Arpusda dan Dinkominfo,” jelasnya.
Film animasi ini dijadwalkan rilis pada 5 Mei 2026 di Gedung Arpusda Kabupaten Banyumas. Selain sebagai karya edukatif, film ini juga menjadi bagian dari perayaan satu dekade SMP Telkom Purwokerto.
Deuis menjelaskan, film ini dipersembahkan untuk masyarakat Banyumas sebagai upaya menghidupkan kembali cerita rakyat yang menjadi identitas daerah.
“Satu kisah penting film ini adalah cerita tentang babad alas, yang menceritakan awal mula terbentuknya kawasan ini., Versi ini tidak seperti cerita yang sudah banyak dikenal masyarakat yaitu Batur dan Raden, tetapi berasal dari sudut pandang Syekh Maulana Maghribi masih jarang diangkat dan diperkenalkan secara luas,” lanjutnya.













