Dimensi sastra turut memperkuat konsep pameran. Sejumlah karya puisi dari Andy Ismerdeka atau Andy Ismer dan Budi Waluyo turut dipajang dalam kegiatan tersebut.
Andy Ismerdeka menampilkan puisi Haiku dari kumpulan Haiku dan fiksimininya berjudul POT. Ia juga membawa karya dari antologi puisi SKETSA MERDEKA.
Sementara itu, Budi Waluyo, doktor seni dari Universitas Indonesia, menghadirkan 10 karya puisi dalam pameran tersebut.
Kehadiran karya sastra membuat peringatan kemerdekaan tidak hanya disampaikan melalui bahasa visual. Gagasan tentang bangsa, perjuangan, dan kebebasan juga diterjemahkan melalui kata-kata.
Menurut Andy Merdeka, perpaduan karya seni dan sastra sengaja dihadirkan agar pameran dapat menjadi ruang pertemuan antara seniman dengan masyarakat.
“Pameran seni rupa dan karya sastra ini kami selenggarakan dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Kami ingin menghadirkan ruang yang mempertemukan seni, literasi, dan masyarakat,” katanya.
Pameran Merah Putih di Rumah Merdeka tidak hanya ditujukan bagi kalangan penikmat seni.
Pelajar, komunitas literasi, mahasiswa, hingga masyarakat umum dapat datang untuk melihat karya sekaligus memahami cerita di balik proses kreatif para seniman.
Pengunjung juga memiliki kesempatan berdialog langsung dengan para kreator. Interaksi tersebut diharapkan membuat karya yang dipamerkan tidak berhenti sebagai objek visual, tetapi menjadi pintu masuk untuk memahami gagasan dan pengalaman seniman.
Agus Winarto, misalnya, membawa pengunjung pada tafsir mengenai perempuan sebagai representasi Ibu Pertiwi. Sementara karya Ari Nugroho mengajak generasi muda melihat batik dan busana tradisional dengan pendekatan yang lebih kekinian.
Di sisi lain, puisi-puisi yang ditampilkan memberikan ruang bagi pengunjung untuk menikmati kemerdekaan melalui perspektif bahasa dan sastra.
Pameran yang berlangsung hingga 17 Agustus 2026 ini memperlihatkan bahwa perayaan kemerdekaan dapat dikemas dalam berbagai bentuk.
Lukisan, puisi, dan fashion art menjadi medium untuk menyampaikan gagasan tentang Indonesia tanpa harus menggunakan format perayaan yang seragam.
Bagi masyarakat Purwokerto, kegiatan tersebut sekaligus menjadi alternatif wisata budaya selama momentum HUT ke-81 Kemerdekaan RI















