BATAM, MyInfo – Badan Pengusahaan (BP) Batam memperkuat diplomasi kawasan dengan mengirimkan delegasi ke Johor Bahru, Malaysia, Rabu (10/12/2025). Kunjungan yang dipimpin Anggota/Deputi Bidang Investasi dan Pengusahaan BP Batam Fary Francis ini menjadi bagian dari upaya membaca arah kebijakan regional sekaligus membuka ruang sinergi di tengah persaingan investasi kawasan Singapore–Johor–Riau (SIJORI).
Berbeda dari misi penjajakan kerja sama formal, kunjungan ini lebih menitikberatkan pada pertukaran perspektif kebijakan dan pembelajaran tata kelola investasi antarkawasan yang saling terhubung secara ekonomi.
“Batam dan Johor berada dalam satu ekosistem ekonomi yang saling terhubung. Yang kami dorong adalah bagaimana sinergi ini dapat menjadi kolaborasi yang realistis dan saling menguatkan dalam kerangka SIJORI,” kata Fary dalam keterangannya, Sabtu (13/12/2025).
Agenda utama delegasi BP Batam berlangsung di Invest Malaysia Facilitation Centre Johor (IMFC-J) yang berlokasi di Carnelian Tower, Forest City. Fasilitas ini merupakan pusat layanan terpadu investasi milik Pemerintah Malaysia yang menjadi tulang punggung percepatan realisasi investasi di Johor, terutama dalam konteks pengembangan Johor–Singapore Special Economic Zone (JS-SEZ).
Dalam pertemuan tersebut, BP Batam mencermati langsung bagaimana sistem layanan satu pintu di IMFC-J dijalankan secara terintegrasi, mulai dari perizinan, insentif fiskal, hingga koordinasi lintas kementerian dan lembaga. Model ini dinilai mampu mempercepat proses pengambilan keputusan investor di tengah ketatnya persaingan kawasan.
Senior Vice President IMFC-J Adny Jaffedon Ahmad menyambut baik inisiatif BP Batam untuk memperkuat hubungan antarkawasan.
“Kami menyambut baik komitmen BP Batam dan berharap kerja sama ini dapat menghasilkan manfaat konkret bagi kedua belah pihak,” ujar Adny.
Selain kebijakan investasi, diskusi juga menyinggung isu ketenagakerjaan lintas kawasan. Pertumbuhan industri Johor memicu peningkatan kebutuhan tenaga kerja, sementara Batam memiliki basis sumber daya manusia industri yang relatif matang.
Menurut Fary, potensi ini harus dikelola dengan kerangka yang jelas agar tidak menimbulkan ketimpangan, melainkan saling menguntungkan.













