News  

Greenpeace Desak Prabowo-Gibran Tangani Krisis Iklim yang Bebani Biaya Hidup

Aktivis Greenpeace Indonesia menggelar aksi di Bundaran HI, Jakarta, untuk mendesak pemerintah menangani krisis iklim dan dampaknya terhadap biaya hidup masyarakat. Foto: Greenpeace Indonesia
banner 120x600

JAKARTA, MyInfo.ID – Greenpeace Indonesia mendesak pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka memperkuat penanganan krisis iklim karena dampaknya dinilai semakin membebani kehidupan masyarakat. Selain memicu bencana ekologis, krisis iklim disebut turut menekan pendapatan, mengganggu pekerjaan, dan meningkatkan pengeluaran rumah tangga.

Desakan itu disampaikan melalui aksi damai di Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, Selasa (20/10/2026), bertepatan dengan dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran. Sejumlah aktivis membentangkan dua spanduk raksasa di Patung Selamat Datang.

Spanduk yang menghadap Istana Merdeka bertuliskan “Tangani Krisis Iklim, Turunkan Biaya Hidup”. Sementara itu, spanduk yang menghadap ke selatan Bundaran HI memuat pesan “Bencana Makin Parah, Hidup Makin Susah, Apa Kerja Pemerintah?”

Juru Kampanye Keadilan Iklim Greenpeace Indonesia, Jeanny Sirait, mengatakan kelompok pekerja dengan kondisi ekonomi rentan menjadi salah satu pihak yang paling merasakan dampak krisis iklim.

“Dampaknya paling berat dirasakan oleh kelompok pekerja yang hidup dalam kerentanan ekonomi. Cuaca ekstrem dan bencana ekologis tidak hanya mengancam keselamatan dan kesehatan masyarakat, tapi juga mengganggu sumber penghidupan, menekan pendapatan, dan mendorong kenaikan harga pangan,” kata Jeanny seperti dikutip greenpeace.org, Rabu, (21/10/2026).

Menurut Jeanny, kabut asap berkepanjangan menjadi contoh dampak krisis ekologis yang mengganggu kesehatan sekaligus aktivitas ekonomi masyarakat. Situasi ini menambah tekanan bagi warga yang menghadapi kenaikan biaya hidup dan ketidakpastian pekerjaan, termasuk risiko pemutusan hubungan kerja (PHK).

Riset Greenpeace: 41 Persen Responden Terdampak Biaya Pangan

Greenpeace Indonesia mengkaji dampak krisis iklim melalui riset bertajuk Besok Harga Naik! Gambaran Dampak Krisis Iklim dari Tempat Kerja, Meja Makan, dan Rumah.

Penelitian tersebut melibatkan delapan kelompok masyarakat di tiga kawasan aglomerasi di Pulau Jawa, yakni Jabodetabekjur, Cekungan Bandung, serta Kartamantul atau Yogyakarta Raya.

Hasil riset menunjukkan 41 persen responden merasakan dampak krisis iklim terhadap pola konsumsi dan biaya pangan. Sebanyak 39 persen mengalami dampak pada produktivitas dan pendapatan, sedangkan 20 persen lainnya terdampak dalam hal akses tempat tinggal dan biaya transportasi.

Temuan tersebut menggambarkan bagaimana persoalan iklim berkaitan dengan kemampuan rumah tangga memenuhi kebutuhan dasar, bukan hanya masalah lingkungan.

Warga Berhemat hingga Mencari Penghasilan Tambahan

Riset Greenpeace juga mencatat berbagai strategi masyarakat untuk menghadapi tekanan ekonomi. Sebanyak 57,34 persen responden mengurangi pengeluaran non-esensial dengan penghematan sekitar Rp50 ribu hingga Rp1 juta per bulan.

Selain itu, 38,78 persen responden menanam kebutuhan pokok di rumah untuk menghemat sekitar Rp80 ribu hingga Rp500 ribu per bulan. Sebanyak 56,79 persen lainnya mencari penghasilan tambahan melalui pekerjaan sampingan atau usaha baru, dengan pemasukan tambahan sekitar Rp500 ribu hingga Rp2,5 juta per bulan.

Related Images:

Follow WhatsApp Channel My Info untuk update berita terkini setiap hari! Follow