Dalam merespons tantangan tersebut, Nezar mengungkapkan bahwa sejumlah perguruan tinggi di luar negeri mulai menerapkan kembali metode evaluasi konvensional untuk menjaga kualitas berpikir mahasiswa.
“Di beberapa universitas luar negeri bahkan sudah kembali ke metode tulis tangan untuk esai guna memastikan kemampuan analitik mahasiswa tetap terjaga. AI adalah mitra, bukan pengganti otak manusia,” tambahnya.
Langkah ini dipandang sebagai upaya menjaga keseimbangan antara pemanfaatan teknologi dan penguatan kapasitas berpikir manusia di tengah derasnya arus digitalisasi.
Wamen Nezar juga mengapresiasi inisiatif Tim Riset Digital Culture & New Media Studies Lab Telkom University yang berencana melakukan kajian mendalam terkait literasi AI di kalangan pelajar dan mahasiswa. Ia menilai riset tersebut penting untuk memahami kesiapan generasi muda dalam berinteraksi dengan teknologi cerdas.
“Saya kira menarik untuk bisa melihat secara lebih mikro mengenai bagaimana kesiapan untuk generasi muda dalam cara mereka berinteraksi dengan AI dan bagaimana konsep mereka untuk melihat AI itu. Perlu juga diukur apakah mereka punya sikap kritis terhadap AI itu,” imbuhnya.
Hasil riset tersebut diharapkan mampu memberikan gambaran faktual terkait tingkat ketergantungan AI di lingkungan pendidikan.
Nezar berharap temuan riset tersebut dapat menjadi rujukan bagi pemerintah dalam merumuskan kebijakan pendidikan dan literasi digital yang lebih tepat sasaran. Menurutnya, pendekatan berbasis data menjadi kunci agar pemanfaatan AI dapat berjalan seimbang, produktif, dan tidak menggerus kemampuan berpikir manusia.













