Sepanjang periode tersebut, Solusi Bangun Indonesia mencatat volume penjualan semen dan terak sebesar 12,1 juta ton dengan pendapatan mencapai Rp10,7 triliun. Beban pokok pendapatan tercatat Rp8,32 triliun, EBITDA sebesar Rp1,87 triliun, serta laba periode berjalan mencapai Rp659 miliar.
Rizki menambahkan, disiplin dalam menjalankan program efisiensi turut menurunkan beban keuangan secara signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.
“Program efisiensi yang kami jalankan berkontribusi menurunkan beban keuangan sebesar 34,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya, sekaligus memperkuat struktur permodalan dan likuiditas perseroan,” katanya.
Ke depan, perseroan optimistis dapat menjaga momentum pertumbuhan melalui sejumlah inisiatif strategis bersama SIG, termasuk pengembangan fasilitas ekspor di Tuban, Jawa Timur, melalui kerja sama dengan Taiheiyo Cement Corporation.
“Fasilitas dengan kapasitas ekspor 500 ribu hingga 1 juta ton semen ini ditargetkan mulai beroperasi pada pertengahan 2026,” ujarnya.
Selain pengembangan ekspor, kerja sama tersebut juga mencakup pengembangan bisnis stabilisasi tanah sebagai upaya menjawab kebutuhan industri konstruksi sekaligus membuka peluang pasar baru bagi perseroan.













