Partisipasi juga datang dari berbagai elemen masyarakat, mulai dari pelajar tingkat SMP hingga SMA/SMK, Karang Taruna, perguruan pencak silat Merpati Putih, hingga para pegiat seni dan budaya.
Dalam kesempatan tersebut, Mukodam menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menjaga kelestarian lingkungan.
“Sinergi antara pegiat pecinta alam, pelaku budaya, pemerintah daerah, DPRD, dan masyarakat menjadi kunci keberhasilan konservasi. Mata air dan hutan harus dijaga tidak hanya untuk hari ini, tetapi sebagai warisan berharga bagi generasi mendatang. Kepedulian terhadap alam dapat berjalan seiring dengan pelestarian budaya,” ujarnya.
Selain fokus pada pemulihan ekosistem hutan dan mata air, kegiatan ini juga dirangkai dengan aksi sosial berupa layanan pengobatan gratis dan donor darah bagi warga sekitar. Program tersebut terlaksana berkat dukungan Ikatan Apoteker Indonesia (IAI), Persatuan Apoteker Seluruh Indonesia (PASI), kader kesehatan desa, serta Palang Merah Indonesia (PMI) Purbalingga.
Melalui kegiatan ini, penyelenggara menargetkan tiga capaian utama, yakni pelestarian sumber mata air berbasis kearifan lokal, pemulihan ekosistem dengan keterlibatan aktif masyarakat, serta penguatan Desa Talagening sebagai model konservasi yang menghargai warisan budaya peradaban Kalingga dan Galuh.













