PURWOKERTO, MyInfo.ID – Produktivitas riset internasional di Universitas Jenderal Soedirman menunjukkan peningkatan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Selama periode 2022 hingga 2025, jumlah publikasi ilmiah sivitas akademika yang terindeks pada jurnal internasional berperingkat Scimago Journal Rank kategori Quartile 1 (Q1) meningkat hingga 144 persen.
Data tersebut menunjukkan jumlah publikasi Q1 bertambah dari 50 judul pada 2022 menjadi 122 judul pada 2025. Peningkatan ini menegaskan penguatan rekam jejak riset internasional kampus yang berada di Purwokerto tersebut.
Tren Publikasi Q1 Unsoed Terus Meningkat
Berdasarkan data yang dihimpun Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Jenderal Soedirman, pertumbuhan publikasi Q1 berlangsung konsisten dari tahun ke tahun.
Rinciannya menunjukkan tren peningkatan sebagai berikut:
- 2022: 50 publikasi
- 2023: 59 publikasi
- 2024: 89 publikasi
- 2025: 122 publikasi
Dalam kurun empat tahun, jumlah publikasi bertambah 72 judul. Lonjakan paling terlihat terjadi setelah 2023, ketika jumlah publikasi meningkat secara akseleratif.
Pertumbuhan ini turut memperkuat posisi Unsoed di antara perguruan tinggi negeri di Indonesia, terutama dalam aspek kualitas publikasi ilmiah yang menjadi salah satu indikator penting dalam pemeringkatan universitas dunia.
Rektor Sebut Capaian Hasil Kerja Kolektif Akademisi
Rektor Unsoed, Akhmad Sodiq, menyampaikan bahwa peningkatan publikasi Q1 merupakan hasil kerja bersama sivitas akademika yang didukung kebijakan institusi dalam pengembangan riset.
“Capaian ini adalah milik seluruh dosen dan peneliti Unsoed yang telah bekerja keras meningkatkan kualitas riset mereka. Tugas kami sebagai pimpinan adalah memastikan ekosistem yang kondusif mulai dari dukungan pendanaan, akses jurnal, hingga kolaborasi internasional agar potensi tersebut dapat berkembang optimal.” kata Prof. Dr. Ir. Akhmad Sodiq, M.Sc.Agr., IPU, ASEAN Eng., Rektor Universitas Jenderal Soedirman dalam keterangannya, Kamis (5/3/2026).
Di bawah kepemimpinan tersebut, universitas memperluas sejumlah kebijakan pendukung, termasuk pemberian insentif publikasi, penguatan jejaring kolaborasi riset internasional, serta integrasi target publikasi Q1 dalam indikator kinerja utama pada tingkat fakultas dan program studi.













