Lebih jauh, Wachid menjelaskan bahwa tradisi puisi di Asia Tenggara berakar pada warisan lisan seperti pantun, syair, gurindam, dan kidung.
Tradisi tersebut tidak hanya berfungsi sebagai penyimpan nilai lokal, tetapi juga menjadi medium perlawanan sejak era kolonial hingga pascakolonial, memberi ruang bagi suara-suara rakyat kecil.
“Puisi adalah tafsir zaman. Ia menyampaikan kabar sekaligus memberi makna. Melalui puisi, manusia diajak merenung, menumbuhkan harapan, dan melawan rasa putus asa,” ungkapnya.
Wachid juga menekankan pentingnya solidaritas antarbangsa di Global Selatan. Menurutnya, puisi dari Asia Tenggara, Afrika, hingga Amerika Latin terhubung melalui pengalaman bersama dalam menghadapi kolonialisme, kemiskinan struktural, serta ketidakadilan global.
Partisipasi Wachid dalam forum internasional ini memperkuat posisi sastra Indonesia di tingkat regional.
Ia menegaskan kembali peran penting sastra Indonesia sejak Konferensi Asia-Afrika di Bandung tahun 1955, yang menjadi bagian dari gerakan kultural Global Selatan dan menyuarakan alternatif bagi peradaban dunia.












