Pesan tentang persatuan juga terlihat dari kehadiran kafilah Nusa Tenggara Timur (NTT). Sebanyak 80 anggota kafilah tetap mengikuti MTQ XXXI meski daerah mereka sebelumnya menghadapi bencana gempa.
Pengurus LPTQ NTT Hamdan Saleh Batjo mengatakan semangat ukhuwah Islam dan upaya memasyarakatkan Al-Qur’an menjadi dorongan bagi mereka untuk tetap berpartisipasi.
“Sekalipun NTT mengalami bencana, tetapi semangat ukhuwah Islam dan memasyarakatkan Al-Qur’an di seluruh Indonesia dan Nusantara ini, menjadi satu hal yang membangkitkan semangat NTT dalam mengikuti kegiatan MTQ kali ini,” ucapnya.
Hamdan juga mengapresiasi penerimaan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terhadap para kafilah. Ia menilai pelayanan yang diberikan selama pelaksanaan MTQ XXXI sangat baik.
“Pelayanannya luar biasa. Semalam kami diterima Pak Gubernur, Pak Wakil Gubernur, kali ini ada Pak Menteri. Kami senang dengan penerimaan Jawa Tengah sebagai tuan rumah,” paparnya.
Kemeriahan Pawai Ta’aruf MTQ XXXI turut menarik perhatian warga Semarang. Bella, salah seorang warga, sengaja mengajak putrinya menyaksikan kegiatan tersebut sekaligus mengenalkan nilai-nilai Al-Qur’an dan budaya Islam.
“Sekalian mengenalkan budaya Al-Qur’an. Kan ada selawat, tadi ada Al-Qur’an besar, anak saya tanya apa itu, lalu saya jelaskan,” ungkapnya.
Kebanggaan juga dirasakan Dede Riyanto. Menurutnya, menjadi tuan rumah MTQ XXXI merupakan kesempatan bagi Kota Semarang untuk menyambut peserta dari berbagai penjuru Indonesia.
“Saya bangga sebagai warga Kota Semarang karena tahun ini Jawa Tengah menjadi tuan rumah. Ini kebanggaan kami untuk menerima tamu-tamu kafilah,” pungkas Dede.















