“Kami mengapresiasi semua pihak, kegiatan yang nampaknya sederhana ini saya yakini akan sangat besar dampaknya. Menyediakan buku di ruang publik adalah ide yang sangat brilian untuk mendorong minat baca sejak dini dan mempererat relasi orang tua dan anak melalui media buku yang bermutu,” ungkap Hetifah.
Ia juga menegaskan bahwa literasi tidak hanya berkembang di lingkungan sekolah.
“Literasi tumbuh bukan hanya di ruang kelas atau rumah, tapi dari mana pun. Saya berharap ke depan disediakan perpustakaan mini bagi para penumpang, bukan hanya saat mudik saja,” tuturnya.
Program ini juga mendapat sambutan positif dari para pemudik. Salah satunya Evi, seorang ibu yang sedang menunggu keberangkatan bersama dua anaknya.
“Program ini menurut saya bagus sekali, menarik. Anak-anak jadi tidak main gawai terus karena fokus baca buku. Jadi, mudah-mudahan tahun berikutnya (program ini) terus ada dan lebih banyak lagi tempat-tempat (titik) yang bisa dikunjungi,” ujarnya.
Keceriaan juga terlihat dari Afan, seorang pemudik cilik yang baru menerima buku dari Mendikdasmen.
“Seneng (dapat buku), baca buku bisa bikin aku pintar untuk mencapai cita-cita. Aku mau jadi Astronot!” tutur Afan.
Pelaksanaan program MABB 2026 didukung berbagai pihak, di antaranya Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Ikatan Penerbit Indonesia, serta sejumlah penerbit seperti Gramedia Pustaka Utama dan Balai Pustaka.
Selain itu, dukungan juga datang dari berbagai instansi transportasi dan pemerintah daerah, termasuk PT Kereta Api Indonesia dan sejumlah pengelola terminal serta pelabuhan.
Kolaborasi lintas sektor ini diharapkan mampu memperkuat budaya membaca di tengah masyarakat sekaligus menghadirkan pengalaman literasi yang menyenangkan bagi anak-anak selama perjalanan mudik Lebaran.













