BANYUMAS, MyInfo.ID – Pengakuan terhadap kekayaan budaya lokal Banyumas kembali menguat di tingkat nasional. Pada Selasa 16 Desember 2025, Kementerian Kebudayaan secara resmi menetapkan tiga karya budaya dari Banyumas sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia (WBTbI), yakni Wayang Gagrak Banyumas, Unggahan Perlon Bonokeling, dan Seni Buncisan.
Dikutip dari media sosial resmi Humas Pemkab Banyumas, Jumat (26/12/2025) di antara ketiganya, Seni Buncisan menjadi salah satu kesenian rakyat yang menyimpan jejak sejarah panjang, nilai simbolik, serta ajaran moral yang masih relevan dengan kehidupan masyarakat saat ini. Kesenian ini berasal dari Desa Tanggeran, Kecamatan Somagede, Kabupaten Banyumas, dan tumbuh sebagai ekspresi budaya yang menyatu dengan kehidupan sosial warga setempat.
Jejak Sejarah dan Asal-usul Nama Buncisan

Dalam jurnal berjudul Nilai Moral Pada Kesenian Buncis di Desa Tanggeran Kecamatan Somagede Kabupaten Banyumas, dijelaskan bahwa secara etimologis istilah “Buncis” berasal dari dua kata, yakni “Buntar” yang berarti ganggang dan “Cis” yang bermakna keris kecil. Dari sinilah istilah Buncis kemudian berkembang dan melekat pada kisah serta bentuk pertunjukan seni rakyat Banyumas.
Sejarah Seni Buncisan berakar dari kisah sayembara antara Raden Prayitno dan Patih Brajanggelap. Sayembara tersebut digelar untuk memperebutkan hati Dewi Nurkhanti, putri Adipati Kalisalak, yang menjadi pujaan kedua tokoh tersebut. Dalam kisah itu, Raden Prayitno keluar sebagai pemenang berkat keris kecil pemberian Empu Lemah Tengger yang juga dikenal sebagai Ki Ageng Tinggir sebuah pusaka sakti yang kemudian disebut “Buncis”.
Klimaks cerita terjadi ketika Raden Prayitno menggunakan keris kecil tersebut dalam pertarungan terakhir melawan Patih Brajanggelap. Keris Buncis digambarkan menjelma menjadi makhluk berbulu menyerupai manusia dan naga, simbol kekuatan, keteguhan hati, serta pertolongan di saat genting.
Makhluk tersebut kemudian mengucapkan janji penting kepada Raden Prayitno. Ia berjanji akan menari dengan indah jika Raden Prayitno memenangkan sayembara, dengan iringan musik yang terbuat dari bambu. Dari sinilah istilah “Buncis” juga dimaknai sebagai singkatan dari “Bun-tuning lelakon”, yang berarti akhir dari sebuah perjuangan.
Dalam konteks ini, Buncis menjadi simbol penyelesaian masalah, pertolongan, dan kemenangan yang hanya dapat diraih melalui keberanian, keteguhan hati, serta usaha yang sungguh-sungguh.
Struktur Pertunjukan Seni Buncisan
Dalam praktiknya, pertunjukan Seni Buncisan disajikan dalam tiga babak utama, yakni bagian awal, inti, dan penutup. Setiap babak dirangkai secara utuh melalui elemen-elemen pertunjukan yang lengkap, meliputi gerak tari, pelaku, iringan musik, tata rias, tata busana, desain lantai, tata cahaya, tata suara, tempat pementasan, hingga properti pendukung.













