Mengapa Berterima Kasih kepada Suami Menjadi Fondasi Keharmonisan Rumah Tangga dalam Islam

Ilustrasi Pasangan Muslim. Foto: Freepik

Begitu pula saat suami memberikan nafkah, meskipun jumlahnya terbatas, istri tetap dapat mengapresiasi niat dan usaha yang telah dicurahkan. Bahkan ketika suami belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan atau keinginan, penghargaan atas ikhtiar yang dilakukan mencerminkan kedewasaan spiritual dan emosional.

Dalam urusan pekerjaan rumah, ucapan terima kasih juga menjadi perekat emosi. Saat suami membantu pekerjaan rumah, memperbaiki peralatan, atau mengantar anak, apresiasi verbal menegaskan bahwa peran tersebut bernilai dan tidak dianggap remeh.

Sebaliknya, Islam memberikan peringatan serius terhadap kebiasaan menghapus seluruh kebaikan hanya karena satu kesalahan. Rasulullah SAW menggambarkan dampak dari sikap ini dalam hadis yang sangat tegas:

إِنِّي رَأَيْتُ الْجَنَّةَ، أَوْ أُرِيتُ الْجَنَّةَ، فَتَنَاوَلْتُ مِنْهَا عُنْقُودًا، وَلَوْ أَخَذْتُهُ لَأَكَلْتُمْ مِنْهُ مَا بَقِيَتِ الدُّنْيَا، وَرَأَيْتُ النَّارَ، فَلَمْ أَرَ كَالْيَوْمِ مَنْظَرًا قَطُّ، وَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاءَ. قَالُوا: لِمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: (بِكُفْرِهِنَّ). قِيلَ: يَكْفُرْنَ بِاللَّهِ؟ قَالَ: يَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ، وَيَكْفُرْنَ الْإِحْسَانَ، لَوْ أَحْسَنْتَ إِلَى إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ، ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا، قَالَتْ: مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ

Artinya, “Aku melihat surga, atau aku diperlihatkan surga. Aku mengambil dari dalamnya setandan anggur. Jika aku mengambilnya, niscaya kalian akan memakannya selama dunia masih ada. Aku juga melihat neraka. Aku tidak pernah melihat pemandangan yang lebih mengerikan daripada hari ini. Aku melihat kebanyakan penghuninya adalah perempuan. Para sahabat bertanya: ‘Mengapa wahai Rasulullah’. Beliau menjawab: ‘karena kekufuran mereka’. Beliau ditanya lagi: ‘apakah mereka kufur kepada Allah’. Beliau menjawab: ‘mereka kufur kepada suami dan kufur terhadap kebaikan. Jika kamu berbuat baik kepada salah seorang dari mereka sepanjang masa, lalu ia melihat satu kesalahan darimu, ia berkata: ‘aku tidak pernah melihat kebaikan darimu sama sekali.’” (HR. Al-Bukhari).

Hadis ini mengkritik sikap emosional yang menafikan seluruh pengorbanan besar hanya karena satu kekeliruan. Dalam pandangan Islam, mengingkari kebaikan suami termasuk dosa besar karena menutup mata terhadap nikmat Allah yang nyata.

Ibnu Bathal kembali menegaskan kewajiban istri untuk mengakui jasa suami:

أنه يجب عليها شكره والاعتراف بفضله؛ لستره لها وصيانته وقيامه بمؤنتها وبذله نفسه فى ذلك

Artinya, “Seorang istri wajib mensyukuri suaminya dan mengakui jasanya, karena suami menutupi menutup aibnya, menjaga kehormatannya, menanggung kebutuhannya, dan mencurahkan dirinya untuk semua itu.” (ISyarah Shahih Bukhori, jilid VII, halaman 319).

Meski Islam menekankan kewajiban istri untuk menghargai suami, prinsip ini tidak bersifat sepihak. Suami pun memiliki kewajiban moral untuk mengapresiasi pengabdian istri. Al-Qur’an menggariskan pola relasi yang berlandaskan kebaikan dan kelapangan hati:

وَعَاشِرُوْهُنَّ بِالْمَعْرُوْفِۚ فَاِنْ كَرِهْتُمُوْهُنَّ فَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّيَجْعَلَ اللّٰهُ فِيْهِ خَيْرًا كَثِيْرًا ۝١٩

Artinya, “Pergaulilah mereka dengan cara yang patut. Jika kamu tidak menyukai mereka, (bersabarlah) karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan kebaikan yang banyak di dalamnya.” (QS. An-Nisa’: 19)

Ketika suami dan istri berlomba-lomba untuk saling menghargai, rumah tangga akan dipenuhi ketenangan dan keberkahan. Ucapan terima kasih yang tulus bukan sekadar kata, melainkan doa yang menumbuhkan cinta, iman, dan rahmat dalam keluarga.
Wallahu a’lam.

Related Images:

Follow WhatsApp Channel My Info untuk update berita terkini setiap hari! Follow