Mengapa Berterima Kasih kepada Suami Menjadi Fondasi Keharmonisan Rumah Tangga dalam Islam

Ilustrasi Pasangan Muslim. Foto: Freepik

KEHARMONISAN rumah tangga dalam Islam tidak dibangun semata oleh pembagian peran, melainkan oleh kesadaran spiritual untuk saling menghargai. Islam menempatkan pernikahan sebagai ikatan ibadah yang dilandasi kasih sayang (mawaddah) dan rahmat. Di dalamnya, suami dan istri bukan hanya pasangan hidup, tetapi juga mitra dalam menjalani amanah Allah. Salah satu ekspresi penting dari hubungan tersebut adalah sikap saling berterima kasih atas pengorbanan masing-masing.

Dilansir dari laman NU Online, Selasa (13/12026), dalam praktik keseharian, peran suami sering berjalan tanpa diperhatikan. Ia bekerja mencari nafkah, menanggung tanggung jawab keluarga, menjaga kehormatan istri, bahkan turut terlibat dalam urusan pekerjaan rumah. Namun, tidak jarang kontribusi ini dianggap sebagai kewajiban semata, sehingga luput dari apresiasi. Padahal, ungkapan terima kasih dari seorang istri memiliki dampak besar dalam menjaga semangat, ketenangan, dan keharmonisan rumah tangga.

Islam secara tegas mengajarkan bahwa rasa syukur kepada Allah tidak dapat dipisahkan dari rasa terima kasih kepada sesama. Prinsip ini berlaku universal, termasuk dalam relasi suami istri. Rasulullah SAW menegaskan hal tersebut dalam sabdanya:

لا يَشْكُرُ اللَّهَ مَنْ لا يَشْكُرُ النَّاسَ

Artinya, “Tidaklah bersyukur kepada Allah, orang yang tidak bersyukur (berterima kasih) kepada manusia.” (HR Abu Dawud dan Tirmidzi).

Hadis ini menempatkan etika berterima kasih bukan sekadar adab sosial, tetapi bagian dari kualitas iman. Dalam konteks rumah tangga, seorang istri yang menghargai dan mensyukuri suaminya sejatinya sedang menjalankan bentuk syukur kepada Allah atas nikmat yang disampaikan melalui perantara suami.

Ulama besar Ibnu Bathal menjelaskan bahwa kebaikan suami kepada istri pada hakikatnya adalah nikmat Allah yang dialirkan melalui dirinya. Oleh karena itu, mengapresiasi suami bukan sekadar urusan relasi personal, melainkan sikap keimanan yang mendalam. Ia menegaskan bahwa kebiasaan bersyukur kepada suami berpengaruh langsung terhadap kualitas iman seorang istri.

Dalam Syarah Shahih al-Bukhari, Ibnu Bathal menyebutkan:

وشكر نعمة الزوج هو من باب شكر نعمة الله، لأن كل نعمة فضل بها العشير أهله، فهى من نعمة الله أجراها على يديه….ودل ذلك أن إيمانهن يزيد بشكرهن العشير وبأفعل البر كلها

Artinya, “Mensyukuri kebaikan suami termasuk bagian dari mensyukuri nikmat Allah. Setiap nikmat yang Allah berikan kepada seorang istri melalui suaminya berasal dari nikmat Allah yang Dia alirkan lewat tangan suami…Hadits tersebut juga menunjukkan bahwa iman seorang istri bertambah dengan mensyukuri suaminya dan dengan melakukan semua bentuk kebaikan.” (Ibnu Bathal, Syarah Shahih Bukhori, [Riyadh, Maktabah ar-Rasyid: 2003], jilid I, halaman 89)

Pandangan ini menegaskan bahwa syukur bukanlah sikap pasif, melainkan energi spiritual yang melahirkan ketenangan batin, kelapangan hati, serta keharmonisan relasi suami istri.

Berterima kasih kepada suami tidak selalu membutuhkan ungkapan besar. Sikap ini justru tumbuh dari hal-hal sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Ketika suami pulang bekerja dalam keadaan lelah, ucapan tulus seperti “Terima kasih sudah bekerja hari ini” mampu menghadirkan rasa dihargai yang mendalam.

Related Images:

Follow WhatsApp Channel My Info untuk update berita terkini setiap hari! Follow