Menurutnya, fenomena ini dikenal sebagai visual tourism, yakni kecenderungan wisatawan memilih lokasi yang menarik secara visual dan cocok untuk diabadikan serta dibagikan di media sosial.
Berdasarkan catatan Disbudparekraf, peningkatan kunjungan mulai terlihat sejak H-1 Lebaran dan mencapai puncaknya pada H+2. Hal ini menunjukkan bahwa masa libur setelah hari raya masih menjadi waktu favorit masyarakat untuk berwisata.
Faktor cuaca juga turut memengaruhi pergerakan wisatawan. Kondisi cuaca kurang bersahabat di kawasan pegunungan membuat wisatawan cenderung memilih destinasi yang lebih aman dan nyaman, terutama di wilayah perkotaan.
Ke depan, Disbudparekraf Jateng mendorong pengelola destinasi untuk beradaptasi dengan tren baru tersebut. Penguatan konsep pengalaman wisata serta nilai visual dinilai penting untuk menarik minat pengunjung, khususnya generasi muda.
“Penguatan konsep experience dan visual menjadi kunci untuk menarik wisatawan, terutama generasi muda,” kata Hanung.
Sementara itu, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi sebelumnya mengajak masyarakat, khususnya pemudik, untuk menikmati berbagai destinasi wisata di wilayahnya. Namun, ia tetap mengingatkan agar masyarakat waspada terhadap potensi cuaca ekstrem selama libur Lebaran.
Dengan tren kunjungan yang terus meningkat, sektor pariwisata Jawa Tengah dinilai memiliki peluang besar untuk terus berkembang, terutama dengan mengoptimalkan kekuatan destinasi berbasis budaya dan kawasan urban.













