Pendekatan tersebut diharapkan membuat konflik dalam film terasa lebih emosional dan mudah diterima penonton, termasuk mereka yang berada di luar Indonesia.
“Lewat Kuasa Gelap: Perjanjian Darah, kami ingin membuat cerita yang dekat dengan keseharian, terutama dengan kondisi di Indonesia, dan semoga juga terasa relatable bagi penonton di seluruh dunia nanti. Cerita yang menyentuh seperti inilah yang akan membekas, dikenang dan menjadi pengalaman sinematik yang sangat menyenangkan. Saya juga bangga, setelah berkarier selama puluhan tahun, akhirnya untuk pertama kalinya film saya tayang dalam format IMAX,” ujar Rizal Mantovani.
Produser eksekutif Andi Boediman menilai cerita yang dibangun dalam film ini tidak berhenti pada persoalan rasa takut. Ada konsekuensi dari keputusan masa lalu yang menjadi bagian dari konflik antargenerasi.
“Kami tidak membuat film tentang ketakutan. Kami membuat film tentang sesuatu yang lebih berat dari ketakutan, pilihan yang dibuat oleh satu generasi, dan yang harus dibayar oleh generasi berikutnya,” ujar Andi Boediman, produser eksekutif film Kuasa Gelap: Perjanjian Darah.
Lukman Sardi dan Jerome Kurnia kembali memerankan Romo Rendra dan Romo Thomas. Keduanya didukung sejumlah pemeran lain, yakni Venly Arauna, Ferry Salim, Feby Febiola, Lydia Kandou, Sisca Saras, Keysha Angelica, Kiki Narendra, dan Faiz Vishal.
Film ini disutradarai Rizal Mantovani dengan sinematografi Yadi Sugandi. Skenario ditulis Robert Ronny dan Andri Cahyadi.
Robert Ronny dan Prima Taufik bertindak sebagai produser, sementara Andi Boediman menjadi produser eksekutif bersama Jerome Kurnia.
Produksi film turut melibatkan Legacy Pictures, SRN, Virtuelines Entertainment, WOW Multinet Pictures, Mokster Films, dan Netzme Gateway.
Dengan skala produksi yang diperbesar, konflik Romo Rendra yang semakin personal, serta pengalaman tayang IMAX, Kuasa Gelap: Perjanjian Darah dijadwalkan hadir di seluruh bioskop Indonesia mulai 8 Oktober 2026.









