Kisah Dosen Unsoed Menjalani Puasa Hingga 18 Jam di Negara Minoritas Muslim

Wilda Khafida, dosen Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman. Foto: Dok Pribadi

PURWOKERTO, MyInfo.ID – Suasana Ramadan selalu menghadirkan pengalaman berbeda bagi umat Muslim di berbagai belahan dunia. Bagi mereka yang menjalani ibadah puasa jauh dari tanah air, tantangan yang dihadapi sering kali lebih beragam, mulai dari perbedaan budaya hingga kondisi cuaca ekstrem.

Pengalaman tersebut dirasakan oleh Wilda Khafida, dosen Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman atau Unsoed Purwokerto. Saat ini ia sedang menempuh studi doktoral di University of Warmia and Mazury in Olsztyn melalui Institute of Biology and Earth Sciences UKEN, Polandia negara di Eropa yang penduduk Muslimnya sangat kecil dibanding total populasi.

Meski jumlah umat Islam di negara tersebut kurang dari satu persen dari sekitar 38 juta penduduk, Wilda melihat perkembangan komunitas Muslim yang cukup signifikan dalam beberapa tahun terakhir.

Wilda menceritakan bahwa ketika pertama kali menjalani studi magister di Polandia pada 2018, komunitas Muslim perempuan yang ia ikuti masih relatif kecil.

Saat itu komunitas “Muslim Girl” hanya beranggotakan sekitar 50 orang. Namun ketika ia kembali ke Polandia pada Desember 2025 untuk melanjutkan studi doktoralnya, jumlah anggota komunitas tersebut meningkat pesat hingga mencapai sekitar 400 orang.

Selain itu, masyarakat Polandia juga menunjukkan rasa ingin tahu yang cukup tinggi terhadap Islam. Mereka kerap mengajukan pertanyaan sederhana mengenai praktik ibadah umat Muslim.

Wilda berusaha menjawab berbagai pertanyaan tersebut menggunakan bahasa Polandia agar lebih mudah dipahami oleh masyarakat setempat.

Sebagai seorang ekologis, kegiatan penelitian sering membawa Wilda bekerja di alam terbuka. Kondisi tersebut membuat fasilitas ibadah tidak selalu tersedia di lokasi penelitian.

“Hal yang saya syukuri selama di Polandia adalah saya terbiasa menjaga wudhu, karena fasilitas Ibadah tidak selalu tersedia, saya harus memanfaatkan tempat yang ada. Saya pernah sholat di perpustakaan, di hutan, di halaman bahkan di pinggir danau”, ungkap Wilda.

Pengalaman ini menjadi bagian dari perjalanan spiritualnya selama menjalani kehidupan sebagai mahasiswa doktoral di luar negeri.

Menjalani Ramadan di negara dengan empat musim juga menghadirkan tantangan tersendiri. Perbedaan durasi siang dan malam membuat waktu berpuasa bisa jauh lebih panjang dibandingkan di Indonesia.

Wilda bahkan pernah merasakan puasa hingga 18 jam saat musim panas.

“Saya pernah merasakan puasa selama 18 jam, Waktu Magrib di jam 9 malam, Isya di jam 11 malam sedang Adzan subuh di jam 2 pagi”, ungkap Wilda.

Related Images:

Follow WhatsApp Channel My Info untuk update berita terkini setiap hari! Follow