“Kemungkinan besar logam mulia atau harga emas Antam di pekan depan pecah telor di Rp 3 juta per gram,” ujar Ibrahim, seperti dilansir dari Investasi, pada Minggu (5/4/2026).
Kenaikan harga emas tidak lepas dari memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah. Ketegangan yang meningkat di kawasan tersebut mendorong kekhawatiran global, sehingga investor beralih ke aset yang lebih aman seperti emas.
Ibrahim mengungkapkan, laporan terbaru menyebut Iran tengah menyiapkan hingga 2 juta pasukan sebagai langkah antisipasi potensi konflik dengan Amerika Serikat dan Israel.
Situasi ini, bersama konflik di Ukraina, dinilai akan sangat memengaruhi arah harga emas dalam waktu dekat. Ketidakpastian global membuat emas semakin diminati sebagai instrumen lindung nilai dalam investasi.
Selain faktor geopolitik, pergerakan rupiah juga menjadi pendorong kenaikan harga emas di dalam negeri. Ibrahim memperkirakan nilai tukar rupiah berpotensi melemah hingga Rp 17.120 per dolar AS.
Pelemahan ini dipicu oleh penguatan dolar AS yang berkaitan dengan lonjakan harga minyak dunia. Kenaikan harga energi membuat kebutuhan impor meningkat, sehingga permintaan dolar AS naik dan menekan nilai rupiah.
Kondisi tersebut berdampak langsung pada harga emas domestik. Ketika rupiah melemah, harga emas cenderung naik, sehingga memperkuat daya tariknya sebagai instrumen investasi di tengah tekanan ekonomi global.













