Ia menegaskan bahwa serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian merupakan pelanggaran serius yang tidak dapat dibenarkan.
“They are peacekeeping, not peacemaking. Mereka tidak dilengkapi dengan kemampuan untuk membuat ataupun peacemaking. Perlengkapannya dan latihannya adalah untuk menjaga perdamaian, situasi damai yang dijaga, dan ini juga merupakan mandat dari PBB peacekeeping ini,” tegasnya.
Pemerintah Indonesia juga mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem perlindungan personel di berbagai wilayah konflik, khususnya di Lebanon.
“Kita sekali lagi berupaya agar pasukan penjaga perdamaian kita diberi, agar pasukan perdamaian kita ini sehat, selamat dalam menjalankan tugas yang diembankan kepada mereka,” tandasnya.
Pada kesempatan tersebut, Presiden Prabowo Subianto memberikan penghormatan terakhir kepada ketiga prajurit tersebut di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang.
Prosesi berlangsung khidmat, dengan doa dan penghormatan militer sebelum jenazah diberangkatkan ke daerah asal masing-masing untuk dimakamkan.
Presiden juga menyempatkan diri menemui keluarga korban satu per satu untuk menyampaikan belasungkawa serta memberikan dukungan moril.
Sebelum dipulangkan ke Indonesia, ketiga prajurit juga telah mendapat penghormatan dalam upacara militer di Bandara Internasional Rafic Hariri, Beirut, Lebanon, yang dipimpin langsung oleh Komandan UNIFIL.
Kehilangan ini menjadi duka tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi bangsa Indonesia, sekaligus pengingat atas risiko besar yang dihadapi para penjaga perdamaian dalam menjalankan mandat internasional.













