Dalam kondisi seperti ini, berpindah kerja bukanlah bentuk ketidaksetiaan, melainkan strategi bertahan hidup.
Ketika ditanya alasan utama meninggalkan pekerjaan, responden Gen Z dalam survei Gateway Financial secara konsisten menempatkan gaji yang lebih tinggi sebagai faktor nomor satu. Logikanya sederhana: jika tidak ada jaminan jangka panjang, maka mencari kompensasi terbaik adalah pilihan rasional.
Sebanyak 39% Gen Z mengaku inflasi dan ketidakpastian ekonomi membuat mereka lebih ingin meninggalkan pekerjaan saat ini, sementara 30% justru terdorong untuk bertahan. Namun secara keseluruhan, hanya satu dari empat pekerja Gen Z yang menyatakan berkomitmen jangka panjang pada satu pekerjaan.
Reputasi Gen Z sebagai generasi job hopper sejatinya mencerminkan ambisi mereka untuk hidup lebih bermakna. Banyak dari mereka memilih berpindah kerja demi menemukan peran yang memungkinkan pertumbuhan, bukan sekadar bertahan untuk membayar tagihan bulanan.
Studi tahun 2024 oleh Empower menunjukkan adanya kesenjangan tajam antar generasi dalam memaknai kesuksesan finansial. Generasi Baby Boomer menilai penghasilan di bawah US$100.000 per tahun atau sekitar Rp1,56 miliar sudah cukup untuk disebut sukses. Generasi X memasang standar lebih tinggi, yakni di atas US$200.000 per tahun atau sekitar Rp3,12 miliar, sementara generasi milenial berada di kisaran US$180.000 per tahun, setara Rp2,8 miliar.
Berbeda jauh, Generasi Z memandang kesuksesan hampir mustahil diraih dalam kondisi ekonomi saat ini tanpa penghasilan di atas US$580.000 per tahun, atau sekitar Rp9,05 miliar. Angka tersebut mencerminkan tekanan biaya hidup, utang pendidikan, serta tantangan kepemilikan rumah yang dihadapi generasi termuda di dunia kerja saat ini.
Angka tersebut terdengar ekstrem, tetapi konteksnya jelas: utang pendidikan, harga rumah yang tak terjangkau, serta biaya membesarkan anak yang mencapai sekitar US$320.000 atau sekitar Rp4,99 miliar hingga usia 18 tahun.
Riset Randstad menambahkan dimensi penting lainnya. Sebanyak 41% Gen Z mengaku selalu mempertimbangkan tujuan jangka panjang saat mengambil keputusan kerja angka tertinggi dibandingkan generasi lain. Setelah gaji, faktor pendorong terbesar mereka untuk berpindah kerja adalah minimnya peluang pertumbuhan karier.
Pada akhirnya, tuntutan Generasi Z sebenarnya tidak berlebihan. Mereka menginginkan upah yang adil sesuai biaya hidup, dukungan terhadap kesehatan mental, penghargaan terhadap waktu pribadi, serta jalur karier yang nyata.
Perbedaannya bukan pada tujuan, melainkan pada tantangan ekonomi yang dihadapi setiap generasi. Dalam dunia kerja yang semakin tidak pasti, pilihan Gen Z untuk tidak bertahan di tempat yang tidak memberi masa depan justru mencerminkan kesadaran dan perhitungan matang bukan ketidaksetiaan.













