PURWOKERTO, MyInfo.ID – Generasi Z kerap dicap sebagai “orang yang sering berpindah pekerjaan”. Label ini melekat kuat di dunia kerja modern, seolah-olah Gen Z tidak memiliki loyalitas terhadap perusahaan. Namun, di balik stigma tersebut, realitas dunia kerja saat ini justru menunjukkan perubahan besar yakni loyalitas tidak lagi menjamin keamanan, kesejahteraan, maupun masa depan karier seperti dulu.
Sejumlah survei terbaru mengungkap bahwa pola kerja Generasi Z lebih merupakan respons rasional terhadap kondisi ekonomi dan pasar tenaga kerja yang semakin tidak pasti.
Dikutip dari Yourtang Kamis (15/1/2026), survei terbaru menelusuri lebih dalam anomali kepuasan kerja Generasi Z dan memberikan gambaran konkret tentang berapa lama mereka cenderung bertahan di satu perusahaan. Hasilnya, rata-rata karyawan Gen Z diperkirakan hanya bertahan kurang dari dua tahun sebelum mencari peluang baru yang dinilai lebih menjanjikan.
Survei nasional terhadap lebih dari 1.000 responden terdiri dari pekerja Gen Z dan manajer perekrutan menunjukkan adanya kesenjangan besar antara ekspektasi karyawan muda dan persepsi perusahaan. Dunia kerja belum sepenuhnya beradaptasi dengan nilai dan kebutuhan generasi baru ini.
Berbeda dengan anggapan populer, Generasi Z bukan tidak mau bekerja. Mereka justru memiliki batas yang jelas tentang apa yang bersedia mereka toleransi di tempat kerja. Mereka menolak jam kerja berlebihan, upah rendah, serta budaya kerja yang tidak menghargai kontribusi karyawan.
Dengan kata lain, Gen Z ingin bekerja tetapi tidak dengan mengorbankan kesehatan mental, nilai hidup, dan masa depan finansial mereka.
Survei yang dilakukan Gateway Commercial Finance memperkuat gambaran tersebut. Hampir setengah (47%) profesional Gen Z mengaku berencana meninggalkan pekerjaannya dalam waktu satu tahun. Bahkan, sekitar separuh responden menyatakan siap hengkang kapan saja jika muncul peluang yang lebih baik.
Namun menariknya, survei yang sama mencatat bahwa Gen Z sebenarnya memperkirakan masa kerja rata-rata 1,8 tahun setelah menandatangani kontrak. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan anggapan umum di media sosial yang menilai Gen Z sama sekali tidak loyal.
Salah satu temuan kunci lainnya adalah soal kepercayaan terhadap loyalitas. Kurang dari separuh pekerja Gen Z (46%) percaya bahwa setia pada satu perusahaan akan dihargai di pasar kerja saat ini. Pandangan ini bukan tanpa dasar.
Model karier lama bekerja dari posisi pemula hingga pensiun di satu perusahaan kian jarang terjadi. Bahkan survei terbaru menunjukkan bahwa 73% karyawan merasa pekerjaannya tidak aman, termasuk mereka yang berprestasi tinggi.













