BANDUNG, MyInfo.ID – Aktivitas vulkanik Gunung Slamet menunjukkan peningkatan signifikan. Pemerintah melalui Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) pun memperluas rekomendasi jarak aman bagi masyarakat dan wisatawan.
Potensi bahaya yang diwaspadai meliputi erupsi abu, hujan lumpur, hingga lontaran material pijar di sekitar puncak dalam radius tiga kilometer. Selain itu, gas vulkanik berkonsentrasi tinggi juga berisiko muncul di area kawah.
Pelaksana Tugas Kepala Badan Geologi KESDM, Lana Saria, menegaskan bahwa kondisi aktivitas gunung masih cukup tinggi.
“Berdasarkan data pemantauan instrumental G. Slamet terkini, aktivitas G. Slamet masih tinggi sehingga direkomendasikan untuk dilakukan perubahan/ perluasan jarak rekomendasi. Tanggal 4 April 2026 tingkat aktivitas Gunungapi Slamet masih ditetapkan pada Level II (Waspada), dengan rekomendasi masyarakat dan pengunjung/ wisatawan tidak berada/ beraktivitas dalam radius 3 km dari kawah puncak Gunungapi Slamet. Pengamatan intensif terus dilakukan untuk mengantisipasi perkembangan lebih lanjut,” tegasnya dalam keterangan tertulis, Sabtu (4/4/2026).
Gunung Slamet sendiri merupakan gunung api tipe strato dengan ketinggian sekitar 3.432 meter di atas permukaan laut. Secara administratif, gunung ini berada di lima wilayah kabupaten di Jawa Tengah, yakni Pemalang, Banyumas, Brebes, Tegal, dan Purbalingga.
Secara historis, erupsi terakhir terjadi pada periode Maret hingga September 2014 berupa semburan abu dan lava. Aktivitas kembali meningkat pada 2023, ditandai dengan kenaikan kegempaan dan tremor yang berkelanjutan. Sejak 19 Oktober 2023, statusnya ditetapkan pada Level II atau Waspada.
Memasuki 2024 hingga awal 2026, aktivitas kegempaan masih fluktuatif, namun didominasi gempa frekuensi rendah dan tremor menerus. Pada 3 April 2026, perubahan visual mulai terlihat dengan munculnya hembusan gas putih setinggi sekitar 300 meter dari kawah. Fenomena ini menunjukkan adanya proses degassing atau pelepasan gas magmatik ke permukaan.













