Pada 27 Agustus 1883, kawasan Selat Sunda bahkan mengalami kondisi gelap total yang berlangsung sejak sekitar pukul 11.00 hingga pagi hari berikutnya.
Dampak erupsi Krakatau 1883 juga terlihat hingga lapisan atmosfer yang lebih tinggi. Partikel abu sangat halus dan aerosol terdorong ke stratosfer hingga ketinggian sekitar 50 kilometer.
Material tersebut kemudian menyebar mengelilingi wilayah khatulistiwa. Sekitar 13 hari setelah letusan, partikel vulkanik yang berada di atmosfer turut memengaruhi tampilan cahaya Matahari sehingga terlihat dengan warna yang tidak biasa, termasuk kebiruan dan kehijauan.
Beberapa bulan kemudian, efek atmosfer tersebut bahkan terlihat di wilayah dengan lintang yang lebih tinggi. Langit sore di sejumlah kawasan Amerika Serikat menampilkan warna merah menyala yang tidak lazim.
Fenomena tersebut sempat membuat masyarakat mengira terjadi kebakaran besar. Bahkan, kondisi itu dilaporkan memicu pengerahan mobil pemadam kebakaran di sejumlah tempat.
Dampak letusan Krakatau 1883 tidak hanya berupa abu dan perubahan warna langit. Material vulkanik yang bertahan di atmosfer juga memengaruhi jumlah radiasi Matahari yang mencapai permukaan Bumi.
Lapisan aerosol dan debu dari letusan tersebut berkontribusi terhadap penurunan suhu rata-rata global. Suhu dunia tercatat turun sekitar 1,2 derajat Celsius pada tahun setelah erupsi sebelum kembali menuju kondisi normal pada 1888.
Catatan tersebut memperlihatkan bahwa material hasil letusan gunung api dapat memberikan dampak yang jauh melampaui wilayah di sekitar gunung.
Sebaran abu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau perlu dipantau karena arah dan jaraknya dapat berubah mengikuti kondisi erupsi serta pergerakan angin.
Masyarakat yang berada di wilayah terdampak sebaiknya tidak menjadikan informasi dari media sosial sebagai satu-satunya rujukan. Informasi mengenai aktivitas gunung api, potensi bahaya, dan perkembangan sebaran abu perlu mengikuti keterangan resmi dari lembaga terkait.













