Dari sinilah Anda bisa tahu kapan musim berganti dan kapan bulan berganti. Para pendahulu mengamati posisi matahari di siang hari dan mencocokkannya dengan posisi bintang di malam hari secara berulang-ulang. Begitu matahari kembali ke titik awal (setelah melewati 12 rasi bintang), genaplah hitungan satu tahun (haul).
Contoh sederhananya, saat matahari berada di posisi Al-Hamal (Aries), itu biasanya bertepatan dengan masuknya musim semi atau sekitar bulan April.
Dari Buruj ke Hilal: Menentukan Awal Ramadan
Nah, sekarang kita bisa menarik benang merahnya. Penentuan awal Ramadan dengan melihat hilal bukanlah sekadar tebak-tebakan atau ritual tanpa makna. Ini adalah bagian dari sistem alam semesta yang sangat presisi, yang sudah diisyaratkan dalam Al-Qur’an melalui konsep buruj.
Ilmu memetakan langit ini awalnya dipelopori oleh bangsa Kaldania (Chaldean), lalu disempurnakan oleh bangsa Arab. Al-Qur’an menggunakan fenomena buruj ini sebagai bukti nyata betapa akurat dan agungnya ciptaan Allah. Jadi, ketika para ahli hisab dan rukyat memantau hilal, mereka sedang membaca “jam raksasa” yang Allah ciptakan agar manusia bisa mengatur waktu ibadah dan kehidupannya dengan teratur.
Jadi, zodiak versi Barat dan buruj versi Islam sebenarnya merujuk pada fenomena langit yang sama. Bedanya, dalam pandangan Islam, semua itu adalah tanda-tanda kebesaran Allah yang harus dipelajari dan direnungkan. Bukan untuk dijadikan ramalan nasib, tapi untuk memahami keteraturan alam semesta.
Dari buruj, kita belajar tentang siklus waktu. Dari hilal, kita belajar tentang ketepatan. Semua bermuara pada satu kesimpulan: alam semesta ini diciptakan dengan penuh perhitungan dan keindahan, sebagai bukti kasih sayang Allah agar manusia tidak tersesat dalam kegelapan.
Jadi, setiap kali kamu melihat bulan sabit tipis menandai awal Ramadan, ingatlah bahwa di balik itu semua, ada gugusan bintang yang setia menjadi penanda, sebagaimana yang telah diabadikan dalam Al-Qur’an. Subhanallah!
Sumber: nubanyumas.com












