PURWOKERTO, MyInfo.ID – Setiap kali Ramadan tiba, umat Islam di Indonesia pasti akrab dengan istilah “Sidang Isbat”. Para ahli hisab dan rukyat berkumpul, memantau hilal untuk menentukan kapan ibadah puasa dimulai.
Tapi pernah nggak sih kamu bertanya, apa hubungannya fenomena langit ini dengan zodiak? Atau bahkan dengan gugusan bintang yang disebut dalam Al-Qur’an? Dikutip dari nubanyumas.com, ternyata, semuanya saling terkait dalam sebuah sistem kosmik yang sangat presisi!
Apa Itu Buruj? Gugusan Bintang dalam Al-Qur’an
Al-Qur’an ternyata sudah menjelaskan fenomena ini jauh sebelum ilmu astronomi modern berkembang. Dalam Surah Al-Hijr ayat 16, Allah berfirman:
“Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan gugusan bintang (buruj) di langit dan menjadikannya terasa indah bagi orang-orang yang memandang.”
Istilah buruj dalam literatur Islam merujuk pada gugusan bintang tetap (thawabit) yang polanya tidak berubah jika dilihat dari bumi. Karena bentuknya yang unik, manusia zaman dulu melihat pola-pola ini mirip hewan atau benda, lalu memberinya nama. Kelompok bintang inilah yang menjadi “jalur tol” bagi lintasan matahari dan bulan.
12 Buruj yang Jadi Cikal Bakal Zodiak
Imam Jalaluddin as-Suyuthi dalam kitabnya menjelaskan bahwa buruj terdiri dari 12 gugusan bintang utama. Menariknya, nama-nama ini mirip dengan zodiak yang dikenal sekarang, hanya saja dalam versi bahasa Arab:
- Al-Hamal (Aries)
- Ats-Tsaur (Taurus)
- Al-Jauza’ (Gemini)
- As-Sarthan (Cancer)
- Al-Asad (Leo)
- As-Sunbulah (Virgo)
- Al-Mizan (Libra)
- Al-‘Aqrab (Scorpio)
- Al-Qaus (Sagitarius)
- Al-Jadi (Capricorn)
- Ad-Dalwu (Aquarius)
- Al-Hut (Pisces)
Para ulama seperti Imam Asy-Syuthi juga menyebutkan bahwa planet-planet yang kita kenal memiliki “rumah” di gugusan bintang ini. Misalnya, Bulan (Al-Qamar) “berumah” di Cancer, sementara Matahari (Asy-Syams) bernaung di Leo.
Perspektif Ahli Falak: Buruj sebagai Penanda Waktu
Bagi para ahli falak (astronomi Islam), bintang-bintang ini bukan sekadar pajangan langit. Mereka menyebutnya sebagai “persinggahan” matahari. Karena matahari tampak bergerak dalam lintasan melingkar (ekliptika) selama setahun, para ahli membagi lintasan itu menjadi 12 bagian, sesuai dengan jumlah bulan.












