Salah satu pengunjung, Hamzah, mengaku tertarik datang setelah melihat Kampoeng Kepiting di media sosial. Ia menyebut suasana alami dan hidangan yang disajikan menjadi daya tarik utama. “Pemandangannya masih alami, anginnya sepoi-sepoi. Makanannya juga enak, terasa segar. Jadi betah,” katanya.
Bagi masyarakat setempat, Kampoeng Kepiting bukan sekadar tempat wisata, melainkan ruang pemberdayaan ekonomi. Program ini merupakan bagian dari Masyarakat Mandiri Kutawaru (Mamaku) yang melibatkan mantan anak buah kapal dan pekerja migran Indonesia untuk mengelola tambak sekaligus usaha kuliner.
Area Manager Communication, Relations & CSR RU IV Cilacap, Agustiawan, menjelaskan bahwa pengembangan Kampoeng Kepiting didukung berbagai pelatihan, mulai dari pengelolaan tambak, pengolahan produk usaha mikro kecil menengah (UMKM), hingga pelayanan kepada pengunjung. “Semua peningkatan kapasitas ini sangat berguna dalam mendukung lonjakan pengunjung,” ujarnya.
Sejak dikembangkan pada 2021, Kampoeng Kepiting Kutawaru kini tidak hanya dikunjungi warga lokal, tetapi juga menarik wisatawan dari berbagai daerah seperti Purwokerto, Purbalingga, Tegal, Pangandaran, hingga Bandung.
Di tengah suasana sederhana dengan meja-meja kayu yang menghadap laut, destinasi ini menghadirkan pengalaman wisata kuliner yang tidak hanya soal rasa, tetapi juga tentang upaya masyarakat pesisir membangun kemandirian ekonomi secara berkelanjutan.













