PURWOKERTO, MyInfo.ID – Wisuda ke-78 Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) menjadi momentum reflektif tentang makna pendidikan tinggi. Dalam prosesi yang digelar Sabtu, 14 Februari 2026, di Auditorium Ukhuwah Islamiyah UMP, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) RI, Fajar Riza Ul Haq, menyampaikan orasi ilmiah yang menekankan bahwa wisuda adalah simbol penyucian dari kebodohan, bukan sekadar seremoni kelulusan.
Acara tersebut diikuti lulusan Program Magister, Sarjana, dan Ahli Madya dari berbagai fakultas, disaksikan keluarga serta sivitas akademika. Kehadiran pejabat kementerian mempertegas posisi UMP dalam ekosistem pendidikan nasional sekaligus menunjukkan sinergi antara perguruan tinggi dan pemerintah.
Dalam orasinya, Wamendikdasmen mengajak para wisudawan memahami makna filosofis di balik prosesi akademik yang mereka jalani.
“Wisuda berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti disucikan atau dimurnikan. Dimurnikan dari atau dijauhkan dari kebodohan. Ketika kita diwisuda, secara simbolik kita disucikan—dari tadinya tidak tahu menjadi tahu, setelah tahu menjadi paham, dan setelah paham kita amalkan dalam tindakan nyata,” ujar Dr. Fajar Riza Ul Haq.
Ia menegaskan bahwa capaian akademik bukanlah garis akhir. Gelar sarjana atau magister harus menjadi titik tolak untuk menghadirkan kontribusi nyata di tengah masyarakat.
Lebih jauh, ia mengaitkan konsep wisuda dengan tradisi keilmuan dalam Islam.
“Dalam tradisi Islam dikenal istilah ijazah. Seorang murid yang telah lengkap keilmuannya dari seorang guru, maka ia memperoleh ijazah. Jadi ketika para wisudawan menerima ijazah hari ini, secara simbolik mereka dinyatakan lulus dalam bidang ilmu tertentu dan siap mengamalkan ilmunya untuk kemaslahatan,” jelasnya.
Pesan tersebut menempatkan wisuda sebagai proses pematangan moral dan tanggung jawab sosial, bukan sekadar pengakuan administratif atas kelulusan.
Menurut Wamendikdasmen, generasi terdidik saat ini dihadapkan pada tantangan yang jauh lebih kompleks. Penguasaan ilmu saja tidak cukup. Lulusan perguruan tinggi dituntut mampu berpikir kritis, berintegritas, serta berperan aktif dalam menyelesaikan persoalan bangsa.
Di tengah perubahan sosial, ekonomi, dan teknologi yang cepat, pendidikan tinggi memiliki tanggung jawab strategis membentuk sumber daya manusia yang adaptif dan beretika.
Rektor UMP, Jebul Suroso, menegaskan bahwa wisuda harus dipandang sebagai fase transisi menuju pengabdian.
“Wisuda adalah fase transisi dari ruang akademik menuju ruang pengabdian. Ilmu yang diperoleh tidak berhenti pada gelar, tetapi harus menjadi energi perubahan di tengah masyarakat. Kami berharap para lulusan UMP mampu menjadi insan pembelajar sepanjang hayat dan berkontribusi nyata bagi bangsa,” tutur Prof. Jebul.
Ia juga menekankan komitmen kampus dalam menjaga kualitas pendidikan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga kuat dalam nilai-nilai keislaman dan kemanusiaan.
“Kami tidak hanya mencetak lulusan yang kompeten secara akademik, tetapi juga berkarakter, berintegritas, dan memiliki kepedulian sosial yang tinggi,” tambahnya.
Wisuda ke-78 ini tidak hanya menjadi ajang pelepasan lulusan, tetapi juga simbol penguatan kolaborasi antara perguruan tinggi dan pemerintah dalam membangun pendidikan nasional.
Dengan orasi ilmiah dari Wamendikdasmen RI, UMP kembali menegaskan perannya sebagai institusi pendidikan yang berorientasi pada mutu, karakter, dan kontribusi nyata bagi bangsa.
Makna wisuda yang disampaikan dalam forum ini menjadi pengingat bahwa gelar akademik membawa amanah. Bukan hanya sebagai tanda kelulusan, tetapi sebagai bukti bahwa seseorang telah “dimurnikan dari kebodohan” dan siap mengamalkan ilmunya untuk kemajuan Indonesia.












