Selain korban meninggal, data terbaru mencatat 99 orang masih menjalani perawatan medis, sementara empat orang telah diperbolehkan pulang dan satu orang lainnya tidak memerlukan perawatan lanjutan.
Kondisi para korban yang dirawat bervariasi, mulai dari luka ringan hingga patah tulang akibat tertimpa material bangunan. Pemerintah daerah bersama relawan kesehatan terus memberikan pendampingan dan perawatan bagi seluruh penyintas.
Hingga laporan ini disusun, operasi pencarian terus difokuskan di sektor A1 dan A2, area yang diyakini masih menyimpan korban tertimbun. Kedua sektor tersebut merupakan bagian bangunan lama yang tertimpa tumpukan beton tebal dari struktur atas musala yang ambruk.
Abdul Muhari menegaskan, proses pembersihan puing dilakukan dengan sangat hati-hati untuk mencegah kerusakan tambahan pada bangunan di sekitar lokasi.
Sejak awal kejadian, tim SAR gabungan yang terdiri dari Basarnas, TNI, Polri, BPBD, dan relawan setempat terus bekerja selama 24 jam dengan sistem bergantian. Alat berat seperti ekskavator, crane, hingga pemecah beton dikerahkan untuk mempercepat pencarian.
Meski cuaca dan kondisi puing kerap menjadi tantangan, semangat para petugas tidak surut. Setiap penemuan korban menjadi penanda kemajuan sekaligus pengingat akan besarnya duka yang masih dirasakan keluarga santri dan masyarakat sekitar.













