News  

UMP Gelar Sekolah Pemikiran #1 Bahas Ekonomi Berkeadilan dari Margono hingga Sumitro

UMP Gelar Sekolah Pemikiran #1 Bahas Ekonomi Berkeadilan dari Margono hingga Sumitro. Foto: UMP

PURWOKERTO, MyInfo.ID – Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) melalui Pusat Studi Kebijakan Publik & Kepemimpinan (PS KPK UMP) mengadakan Sekolah Pemikiran #1 bertema “Jalan Ekonomi Berkeadilan: Dari Pemikiran Margono Djojohadikusumo Hingga Sumitro.” Kegiatan ini menghadirkan Haryo B. Rahmadi dari Sumitro Institute dan Rektor UMP Prof. Dr. Jebul Suroso sebagai narasumber utama. Acara berlangsung di Samara Café and Eatery, Minggu (1/12).

Daam keterangan tertulisnya, Rabu (3/12/2025), forum pemikiran ekonomi tersebut diikuti berbagai kalangan, mulai dari akademisi UMP dan beberapa perguruan tinggi di Purwokerto, wakil dunia usaha, hingga aktivis dan mahasiswa.

Perwakilan PS KPK UMP, Irfan Fatkhurohman, menjelaskan bahwa lembaga ini akan menjadi pusat pengembangan gagasan bagi generasi muda dalam mempelajari pemikiran para tokoh bangsa.

Ia menyebut edisi perdana sekolah pemikiran ini mengambil rujukan gagasan ekonomi kerakyatan yang diperjuangkan Margono Djojohadikusumo dan Sumitro, serta ke depan akan menyentuh pemikiran tokoh asal Banyumas lainnya.

Rektor UMP Prof. Dr. Jebul Suroso menekankan pentingnya kampus sebagai tempat lahirnya ide-ide besar dalam pembangunan bangsa.

“Oleh karena itu kami (UMP) ingin menggagas lebih kuat, menggali lebih dalam sehingga nanti akan lahir pemikiran yang mendalam tentang pemikiran ekonomi kerakyatan yang khas untuk Indonesia,” ungkapnya.

Ia juga berharap forum diskusi ini bisa melahirkan aksi nyata yang memberi dampak luas bagi masyarakat.

“Saya berharap dengan adanya forum ini, Banyumas akan semakin muncul sebagai pusatnya gerakan pemikiran ekonomi kerakyatan,” tandasnya.

Dalam pemaparannya, Haryo B. Rahmadi mengangkat perjuangan Margono Djojohadikusumo dan Sumitro dalam membangun pondasi ekonomi nasional.

“Beliau Bapak Margono Djojohadikusumo hidup dizaman yang tidak baik baik saja, dengan segala keterbatasan beliau adalah perintis pertama gerakan koperasi,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa koperasi digagas sebagai wadah kemandirian rakyat.

“Beliau tahu bagi yang tidak punya uang tapi ingin ikut dalam gerakan kesejahteraan maka ikutlah dalam koperasi maka semua yang dimiliki bisa digunakan mengembangkan koperasi dan gerakan kesejahteraan,” jelasnya.

Margono juga disebut berperan mendirikan Bank BNI 46 setahun setelah Indonesia merdeka sebagai solusi dalam pengelolaan keuangan negara. Pemikiran itu kemudian diteruskan oleh putranya, Sumitro, di masa pemerintahan Presiden Soekarno hingga Soeharto.

“Bapak Margono sampai akhir hayatnya tidak pernah lepas untuk terus berdiskusi dan mengembangkan pemikiran-pemikiran koperasi bersama bung hatta,” tandasnya.

Haryo menyatakan pihaknya berharap diskusi pemikiran ekonomi ini akan terus berlanjut di Purwokerto.

Ia menilai, kota ini memiliki potensi besar untuk menjadi pusat kajian ekonomi kerakyatan dan menghidupkan kembali semangat para tokoh nasional asal Banyumas.

Related Images:

Follow WhatsApp Channel My Info untuk update berita terkini setiap hari! Follow