“Untuk membangun desa berkemajuan dibutuhkan kerja sama semua pihak baik pemerintah, kabupaten, kecamatan, desa, perguruan tinggi, dan masyarakat itu sendiri. Selomanik memiliki kondisi alam yang sangat indah dan potensial,” ungkapnya.
Ia turut menyorot keahlian Prof. Sisunandar yang telah lama fokus pada kultur jaringan kelapa.
“Beliau belajar bertahun-tahun di Australia dan ahli dalam bidang kultur jaringan kelapa. Banyak negara dan perusahaan besar ingin mengontrak beliau. Ini kesempatan berharga bagi Desa Selomanik,” ujarnya.
Akhmad Darmawan menambahkan bahwa UMP telah menyiapkan program lanjutan, termasuk pengembangan kambing perah sebagai atraksi wisata tambahan. Dalam operasionalnya, Agro Edu Wisata Kelapa Kopyor akan dikelola oleh BUMDes Selomanik.
“Semua elemen masyarakat harus kompak, dari BUMDES, NU dan Muhammadiyah, harus berkolaborasi. Selomanik hanya bisa maju kalau semua elemen berjalan bersama,” tegasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Prof. Sisunandar menjelaskan bahwa kelapa kopyor memiliki nilai ekonomi yang tinggi dan dapat menjadi sumber pendapatan utama bagi warga.
“Kalau sekurang kurangnya wisata tidak menguntungkan, masyarakat tetap bisa menjual kelapa kopyor. Nilainya ekonominya luar biasa, pasarnya luas, dan peluangnya besar,” kata Prof. Sisunandar.
Ia juga mengingatkan agar program tidak berhenti meskipun terjadi pergantian kepemimpinan desa.
“Jangan sampai pergantian kepala desa menghentikan program. Bibit kelapa kopyor ini saya buat dua tahun. Kita perlu komitmen bersama yang kuat agar program bisa berjalan secara berkelanjutan,” ujarnya.













