News  

Uji B50 di Alat Berat Tambang Tunjukkan Hasil Positif, RI Kian Dekat ke Kemandirian Energi

Kementerian ESDM mencatat perkembangan menggembirakan dari uji coba penggunaan biodiesel campuran 50 persen atau B50 di sektor pertambangan. Foto: Kementerian ESDM

Meski performa mesin tetap stabil, penggunaan B50 tercatat meningkatkan konsumsi bahan bakar sekitar 1–3 persen, bahkan hingga 3,12 persen dibandingkan B40. Namun, kenaikan ini dinilai masih dalam batas normal dan tidak mengganggu produktivitas alat berat.

Selain itu, hasil uji juga menunjukkan bahwa B50 telah memenuhi berbagai standar teknis, seperti kandungan air, stabilitas oksidasi, hingga kadar FAME. Hal ini menandakan kesiapan bahan bakar tersebut untuk digunakan di sektor dengan beban kerja tinggi seperti pertambangan.

Sebagai informasi, B50 merupakan campuran 50 persen biodiesel berbasis minyak nabati umumnya minyak sawit dan 50 persen solar. Kebijakan ini menjadi kelanjutan dari program B40 yang telah diterapkan secara nasional sejak 2025.

Indonesia sendiri termasuk negara pionir dalam pemanfaatan biodiesel skala besar. Program ini tidak hanya menekan impor bahan bakar fosil, tetapi juga meningkatkan penyerapan minyak sawit domestik serta mengurangi emisi gas rumah kaca.

“Pengembangan B50 menjadi langkah penting dalam mendorong kemandirian energi nasional. Dengan memanfaatkan sumber daya domestik, kita tidak hanya memperkuat ketahanan energi, tetapi juga memberikan nilai tambah bagi perekonomian nasional,” tutur Eniya.

Ke depan, pemerintah akan memperluas pengujian B50 ke berbagai sektor lain, seperti transportasi, pembangkit listrik, kereta api, hingga alat mesin pertanian. Hasil uji ini nantinya akan menjadi dasar dalam penyusunan kebijakan dan standar teknis implementasi secara nasional.

Pengembangan B50 menjadi bagian dari transformasi energi Indonesia menuju sistem yang lebih bersih, berkelanjutan, dan mandiri.

Related Images:

Follow WhatsApp Channel My Info untuk update berita terkini setiap hari! Follow