Selain itu, bagi sekolah yang terdampak bencana seperti banjir atau kebakaran, disediakan mekanisme ujian susulan berbasis komputer.
“Sekolah telah menyiapkan pelaksanaan dengan sebaik-baiknya. Dengan sistem yang ada, kita optimistis pelaksanaan TKA dapat memberikan data yang valid dan akurat sebagai dasar perumusan kebijakan pendidikan ke depan,” pungkasnya.
Kepala SMP Negeri 2 Curug, Purwaningsih, menyampaikan bahwa pelaksanaan hari pertama berjalan tanpa kendala.
“Alhamdulillah pada sesi pertama berjalan lancar. Kami menggunakan tiga ruang dengan masing-masing sekitar 20 peserta, sehingga total 60 siswa per sesi. Hari ini dilaksanakan dalam tiga sesi,” ujarnya.
Ia menambahkan, tidak ada gangguan teknis baik dari jaringan maupun sistem selama pelaksanaan.
“Seperti yang terlihat, tidak ada kendala. Jaringan berjalan baik dan token juga keluar sesuai waktu yang ditetapkan. Mudah-mudahan sampai hari terakhir tetap lancar,” tambahnya.
Salah satu siswa, Heiba Anindya, mengaku sempat merasa gugup saat mengikuti TKA SMP 2026 hari pertama.
“Jujur awalnya takut dan deg-degan, karena ini pengalaman baru bagi kami. Tapi saya juga penasaran dengan soal-soalnya, karena dari cerita kakak kelas ada yang bilang sulit, ada juga yang bilang mudah,” ungkapnya.
Ia menuturkan telah mempersiapkan diri sejak beberapa bulan sebelumnya, dengan intensitas belajar yang meningkat menjelang pelaksanaan.
“Saya mulai belajar dari bulan Desember secara bertahap. Tapi seminggu terakhir sebelum TKA, saya lebih intens belajar untuk memaksimalkan persiapan,” ujarnya.
Dukungan orang tua juga menjadi faktor penting dalam kesiapan dirinya.
“Orang tua sangat mendukung, membantu saya belajar dan menyediakan buku-buku latihan. Jadi saya merasa lebih siap,” tambahnya.
Meski TKA tidak menentukan kelulusan, ia tetap berkomitmen memberikan hasil terbaik.
“Walaupun TKA tidak menentukan lulus atau tidak, saya tetap ingin memberikan yang terbaik dan mendapatkan hasil maksimal,” tegasnya.













