KULON PROGO, MyInfo.ID – Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026 mulai menunjukkan wajah baru sistem evaluasi pendidikan, bukan lagi sekadar menguji hafalan, tetapi kemampuan bernalar. Hal ini dirasakan langsung oleh siswa SMP Negeri 2 Wates, Kulon Progo, yang telah menyelesaikan TKA gelombang kedua pada 8–9 April 2026.
Sejumlah siswa kelas IX mengaku lega setelah ujian, meski rasa cemas menunggu hasil masih membayangi. Pengumuman TKA sendiri dijadwalkan pada Mei 2026.
“Kemarin waktu dua hari mengerjakan TKA rasanya deg-degan. Matematika itu banyak soal ceritanya, tapi tidak semua bacaannya itu menjelaskan inti soalnya. Waktu awal-awal mengerjakan soalnya masih mudah, tapi semakin ke belakang semakin susah,” ujar Natasya, Minggu (12/4/2026).
Pengalaman serupa juga dirasakan Sahda, yang menilai tantangan terbesar justru pada keterbatasan waktu.
“Dari pengalaman aku sendiri, aku kurang waktu. Dari 30 soal untuk Matematika dengan waktu 75 menit itu kurang banget. Dan bacaannya itu banyak ada yang panjang. Hm… yang agak susah itu karena kita harus bernalar kan, jadi kayaknya itu menguras waktu.”
Namun, pada mata pelajaran Bahasa Indonesia, keduanya mengaku lebih percaya diri.
“Kalau Bahasa Indonesia, alhamdulillah cukup. Dari 75 menit mengerjakan 30 soal itu aku masih ada sisa 20 menitan,” kata Natasya.
“Aku juga lumayan ada sisa waktu 15 menitan. Karena alhamdulillah juga aku dapat soal yang lumayan gampang. Ya ada yang susah, ada yang gampang. Menurut aku jadi 50-50 dari gampang sama susah,” tambah Sahda.
Kepala SMP Negeri 2 Wates, Budi Maheni, menyebut pelaksanaan TKA berjalan lancar berkat persiapan matang. Sekolah bahkan harus menyiasati keterbatasan sarana dengan meminjam perangkat dari guru.
Sebanyak 43 unit komputer dan laptop disiapkan, termasuk 28 unit pinjaman dari guru. Selain itu, sekolah juga menyewa genset untuk mengantisipasi pemadaman listrik selama ujian berlangsung. Total 128 siswa kelas IX mengikuti TKA di sekolah tersebut.
Menurut Budi, TKA menjadi momentum penting untuk mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi atau High Order Thinking Skills (HOTS) siswa, terutama dalam aspek literasi dan numerasi.













