“Air bersih bukan hanya menyangkut kebutuhan harian, tetapi juga erat kaitannya dengan kesehatan masyarakat. Sarana ini diharapkan mampu membantu meningkatkan kualitas hidup warga, sehingga perlu dijaga dengan sebaik-baiknya agar manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan,” katanya.
Ucapan terima kasih turut disampaikan Ketua Yayasan Dharma Putra Bonokeling, Ritam, yang mewakili masyarakat adat. “Terima kasih atas pemberian bantuan ini. Semoga menjadi berkah bagi semua pihak dan membantu masyarakat kami melewati musim kemarau dengan lebih baik,” ungkapnya.
Filosofi Air dalam Tradisi Bonokeling
Masyarakat adat Bonokeling dikenal masih memegang teguh tradisi pertanian dan nilai-nilai spiritual Jawa. Aktivitas bertani selalu diiringi ritual adat, mulai dari wiwitan sebelum menanam, wiwitan pari saat panen, hingga sedekah bumi sebagai wujud syukur atas hasil alam.
Bagi komunitas ini, air dipandang sebagai anugerah dan pusaka yang harus dijaga. Oleh karena itu, hadirnya sarana air bersih dari Telkom tidak hanya dianggap sebagai bantuan teknis, melainkan juga selaras dengan filosofi mereka dalam menjaga keseimbangan alam.
Dengan adanya program tersebut, masyarakat adat Bonokeling semakin kuat dalam melanjutkan tradisi, menjaga sawah dan ladang, sekaligus merawat hubungan harmonis dengan bumi. Setiap tetes air kini dipandang sebagai simbol rasa syukur dan kesadaran bahwa kelangsungan hidup manusia bergantung pada kelestarian alam.
Melalui inisiatif ini, Telkom menegaskan perannya sebagai perusahaan digital telco yang tidak hanya berfokus pada transformasi digital, tetapi juga turut berkontribusi pada Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs).
Program pembangunan sarana air bersih di Desa Pekuncen menjadi bagian dari kontribusi sosial dan lingkungan Telkom. Ke depan, Telkom berkomitmen untuk terus menghadirkan program-program yang memberi dampak positif bagi masyarakat dan lingkungan, sejalan dengan visinya sebagai digital telco pilihan utama yang mendukung kemajuan bangsa.













