Pemerintah Provinsi Banten pun berharap dukungan berkelanjutan dari pemerintah pusat dan KAI untuk memperluas pembangunan perkeretaapian hingga wilayah selatan Banten, termasuk rencana pengaktifan kembali jalur Rangkasbitung–Pandeglang–Labuan guna membuka pusat-pusat ekonomi baru dan memperkuat akses ke kawasan pariwisata.
“Kereta api memiliki pengaruh besar bagi pertumbuhan wilayah. Setiap simpul perkeretaapian yang aktif berpotensi menjadi pusat aktivitas ekonomi masyarakat,” ujar Andra Soni.
Sejalan dengan kebijakan tersebut, Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin menyampaikan bahwa pembangunan dan pengoperasian Stasiun Jatake merupakan bagian dari komitmen KAI dalam mendukung penguatan transportasi massal nasional.
“Stasiun Jatake dibangun melalui skema creative financing bersama PT Bumi Serpong Damai Tbk dengan pendekatan Transit Oriented Development. Inisiatif ini sejalan dengan kebijakan pemerintah dalam mengembangkan ekosistem transportasi yang terintegrasi dengan pertumbuhan wilayah,” ujar Bobby.
Ia menjelaskan, Stasiun Jatake memiliki luas bangunan 3.198 meter persegi dengan kapasitas pelayanan hingga 20.000 penumpang per hari. Operasionalnya didukung layanan Commuter Line dengan waktu tunggu 5–10 menit, serta fasilitas parkir, integrasi antarmoda, dan ruang pengembangan lanjutan untuk mendukung mobilitas berkelanjutan.
Bobby juga menyoroti tingginya mobilitas penduduk usia produktif di Kabupaten Tangerang. Sepanjang 2025, jumlah pengguna Commuter Line Tanah Abang–Rangkasbitung tercatat mencapai 77,55 juta orang. Angka tersebut mencerminkan peran vital kereta api perkotaan dalam menopang aktivitas ekonomi harian masyarakat.
Menurut KAI, pengoperasian Stasiun Jatake tidak hanya menambah titik naik-turun penumpang, tetapi juga memperkuat peralihan masyarakat ke angkutan massal yang lebih efisien dan ramah lingkungan.












