Sidang Adat Pandji Pragiwaksono di Toraja: Antara Kebebasan Berekspresi dan Martabat Budaya

Sidang Adat Pandji Pragiwaksono di Toraja: Antara Kebebasan Berekspresi dan Martabat Budaya. Foto: Tangkapan Layar

Di sanalah keluarga memberikan yang terbaik, sebagai bentuk cinta terakhir. Sebuah penghormatan, sekaligus pengembalian kepada Sang Pencipta atas kehidupan yang telah dititipkan.

Bagi masyarakat Toraja, kematian bukan sekadar akhir. Ia adalah perayaan perjalanan, pengikat keluarga, dan wujud bakti.

Maka ketika ada yang menyentuh wilayah itu meski lewat komedi yang dijaga bukan ego, melainkan martabat budaya.

Dalam forum adat tersebut, substansi materi komedi yang dipermasalahkan dibahas secara mendalam. Dampak sosial dan persepsi publik terhadap masyarakat Toraja menjadi salah satu pertimbangan utama.

Kuasa hukum Pandji Pragiwaksono, Haris Azhar, menyampaikan bahwa sidang belum selesai pada hari pertama.

Sidang adat akan dilanjutkan dengan penetapan dan pelaksanaan sanksi adat yang telah disepakati bersama. Haris Azhar menjelaskan, “Keputusan adatnya dijalankan bertahap. Besok dilanjutkan dengan pelaksanaan sanksi berupa satu ekor babi dan lima ekor ayam.”

Ia juga menegaskan bahwa keseluruhan proses berlangsung kondusif dan mengedepankan dialog. Dalam kesempatan tersebut, Pandji Pragiwaksono turut menyampaikan permohonan maaf secara langsung kepada para tokoh adat Toraja dalam forum tersebut.

Related Images:

Follow WhatsApp Channel My Info untuk update berita terkini setiap hari! Follow