“Dari rel dan stasiun, penonton dibawa menyusuri Sungai Serayu, menyaksikan Ebeg, mendengar gamelan, hingga akhirnya menari bersama dalam suasana Banyumasan,” katanya.
Konsep tersebut membuat sejarah tidak disampaikan melalui arsip atau benda peninggalan semata. Kisah masa lalu diterjemahkan ke dalam pertunjukan yang lebih dekat dengan masyarakat, terutama generasi muda.
Community Coordinator Banjoemas History Heritage Community (BHHC), Grytje Gregory Hadiwono, mengatakan BHW 2026 memang dirancang sebagai ruang pertemuan masyarakat dengan sejarah dan warisan budaya Banyumas.
Menurut dia, kegiatan heritage tidak seharusnya hanya dinikmati komunitas atau pemerhati sejarah. Masyarakat umum juga perlu memiliki kesempatan untuk mengenal sekaligus berinteraksi dengan sejarah di lingkungan mereka.
“Kami ingin heritage tidak hanya menjadi sesuatu yang dibicarakan oleh komunitas. Masyarakat juga perlu mendapatkan ruang untuk mengenal dan berinteraksi langsung dengan sejarah yang ada di sekitarnya,” ujar Gery, karibnya.
BHW 2026 Angkat Sejarah SDS
Banjoemas Heritage Week 2026 berlangsung pada 10-13 September dengan menghadirkan berbagai agenda yang berkaitan dengan sejarah, arsip, dan kebudayaan Banyumas.
Salah satu agenda utamanya adalah Pameran 130 Tahun Serajoedal Stoomtram Maatschappij (SDS). Pameran tersebut mengajak masyarakat melihat kembali perkembangan transportasi kereta api sekaligus perubahan sosial dan ekonomi yang terjadi di kawasan Banyumas.
Bagi penyelenggara, peninggalan sejarah tidak cukup hanya disimpan sebagai benda atau dokumen lama. Arsip dan warisan masa lalu perlu diolah menjadi pengetahuan yang dapat dipahami dan diwariskan kepada generasi berikutnya.















