“Nantinya di tempat tersebut akan menghasilkan benih kentang kelas G-nol dan akan kita bagikan ke petani penangkar. Ini sesuai dengan visi misi dan program unggulan Bupati Kerinci,” imbuh Halis.
Dari sisi nasional, Kementerian Pertanian memastikan bahwa pasokan kentang dalam kondisi aman. Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian, Muhammad Agung Sunusi, menegaskan bahwa produksi kentang nasional, khususnya jenis granola, sudah mencukupi kebutuhan dalam negeri.
“Catatan statistik sementara hingga saat ini menunjukkan produksi kentang nasional kumulatif sepanjang tahun 2025 mencapai 1.235.939 ton dengan luas panen 67.758 hektare. Sentranya terbentang dari Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jambi, Sumatera Selatan, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, NTB, Sulawesi Selatan hingga Sulawesi Utara. Sebagian besar didominasi jenis kentang sayur atau populer dengan varietas granola. Untuk jenis ini, produksi kita sudah sangat mencukupi kebutuhan,” terang Agung.
Dengan kondisi produksi yang melimpah, Agung menilai langkah strategis ke depan adalah memperkuat hilirisasi dan diversifikasi produk agar kentang tidak hanya dijual dalam bentuk segar. Menurutnya, pemerintah daerah dapat melibatkan BUMD, pelaku usaha, hingga jejaring industri pangan untuk menyerap produksi petani.
“Perluasan akses pasar dan hilirisasi menjadi langkah konkret yang bisa ditempuh untuk meningkatkan nilai tambah sekaligus membantu petani kentang. Semua pihak harus berkolaborasi,” pungkasnya.
Sejalan dengan itu, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman berulang kali menekankan bahwa hilirisasi merupakan fondasi utama transformasi pertanian Indonesia. Tanpa pengolahan dan nilai tambah, petani akan terus berada di posisi rentan terhadap fluktuasi harga.
“Hilirisasi adalah kunci transformasi pertanian kita. Kalau ini bisa kita lakukan dalam 10 tahun ke depan, dengan komitmen kuat, maka Indonesia bisa menjadi negara superpower,” tegas Mentan Amran.












