“Tanggung jawab yang diemban pada masa Nataru bukanlah tanggung jawab biasa, melainkan tanggung jawab publik dalam skala nasional. Oleh sebab itu, kesiapan operasional pada masa Nataru ini harus berada pada level tertinggi,” sebut Menhub.
Menhub Dudy juga mengingatkan kembali insiden gangguan keamanan terhadap sarana perkeretaapian yang sempat terjadi beberapa bulan lalu, termasuk kasus kebakaran gerbong. Menurutnya, keselamatan perkeretaapian tidak hanya dipengaruhi faktor teknis dan alam, tetapi juga faktor non-teknis seperti keamanan dan ketertiban lingkungan.
“Keselamatan perkeretaapian bukan semata-mata tanggung jawab internal pihak PT. KAI, melainkan hasil dari koordinasi lintas sektor. Karena itu, sinergi dengan Kementerian Perhubungan, TNI, Polri, BMKG, BASARNAS, Pemerintah Daerah, serta seluruh pemangku kepentingan harus terus diperkuat, terutama dalam pengambilan keputusan cepat di lapangan,” ucap Menhub.
Secara khusus, Menhub meminta PT KAI bersama Ditjen Perkeretaapian Kemenhub untuk memberi perhatian serius pada pengamanan dan penataan jalur perlintasan sebidang, baik yang resmi maupun yang masih digunakan masyarakat secara faktual.
Penguatan sistem pengamanan, penegakan ketertiban, pemasangan rambu dan perlengkapan keselamatan, serta edukasi berkelanjutan kepada masyarakat sekitar dinilai menjadi kunci menekan risiko kecelakaan.
“Saya ingatkan kembali bahwa keselamatan adalah prioritas utama yang tidak dapat ditawar. Patuhi setiap prosedur, tingkatkan kewaspadaan, dan bangun budaya saling mengingatkan di setiap lini kerja. Mari kita ciptakan angkutan Nataru yang andal, selamat, dan berkelas melalui kerja profesional dan tanggung jawab bersama,” tuturnya.
Sebagai gambaran, survei Badan Kebijakan Transportasi Kemenhub memproyeksikan pergerakan masyarakat pada Nataru 2025/2026 mencapai 119,5 juta orang. Dari jumlah tersebut, 3,94 juta orang diperkirakan memilih kereta api jarak jauh.
Stasiun Pasar Senen diprediksi menjadi stasiun asal terpadat dengan porsi 19,35 persen atau sekitar 1,21 juta penumpang, sementara Stasiun Yogyakarta menempati posisi teratas sebagai stasiun tujuan terpadat dengan 12,90 persen atau sekitar 805 ribu penumpang.












