Pernyataan ini menegaskan bahwa relasi Indonesia–AS tidak semata didasarkan pada kepentingan pragmatis, melainkan juga pada fondasi moral dan sejarah bersama.
Meski Indonesia dikenal konsisten dengan politik luar negeri bebas aktif atau non-blok, Presiden menekankan bahwa posisi tersebut tidak mengurangi komitmen untuk menjalin persahabatan erat dengan Amerika Serikat maupun kekuatan besar lainnya.
“Kami selalu ingin melihat kehadiran Amerika yang kuat di Indonesia. Kami selalu mencoba meyakinkan Amerika Serikat bahwa Indonesia adalah sahabat sejati, meskipun mungkin secara politik kita memiliki tradisi non-blok” tegas Presiden.
Menurutnya, Indonesia berupaya menjadi jembatan dan honest broker di tengah dinamika geopolitik global, dengan tetap menghormati seluruh kekuatan besar dunia.
Dalam forum yang sama, Presiden juga menyoroti pentingnya kolaborasi internasional untuk menghadapi tantangan global yang semakin kompleks. Ia menyambut baik upaya kepemimpinan Amerika Serikat dalam menciptakan iklim perdamaian dunia.
“Saya melihat ada kemauan besar dari para pemimpin Amerika Serikat saat ini untuk menciptakan iklim perdamaian. Mungkin ini tidak memuaskan semua pihak, tetapi setidaknya kita harus mencoba,” ujar Presiden.
Sebagai penutup, Presiden menegaskan komitmen Indonesia untuk membangun hubungan terbaik dengan Amerika Serikat di berbagai sektor, mulai dari politik dan ekonomi hingga isu kemanusiaan dan lingkungan.
“Kami menginginkan hubungan terbaik dengan Amerika Serikat di semua bidang,” pungkasnya.
Gala Iftar tersebut menjadi penanda bahwa kemitraan Indonesia–Amerika Serikat memasuki babak baru tidak hanya diperkuat oleh kepentingan dagang, tetapi juga oleh nilai sejarah, visi perdamaian, dan komitmen bersama membangun masa depan yang saling menguntungkan.












