Tim SAR dilengkapi dengan Alat Pelindung Diri (APD) lengkap, termasuk helm, kacamata, sarung tangan, dan sepatu boots. Setiap jenazah yang ditemukan langsung dimasukkan ke kantong jenazah khusus, disemprot disinfektan, lalu dibawa menggunakan ambulans ke RS Bhayangkara untuk proses identifikasi.
“Setiap temuan adalah jawaban bagi keluarga yang menunggu kepastian. Meski berat, ini menjadi bentuk empati dan komitmen kemanusiaan yang tidak bisa ditunda,” ujar Abdul Muhari, Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, di lokasi kejadian.
Tim gabungan mencatat kemajuan signifikan dalam operasi pencarian. Hari Minggu (5/10) menjadi hari dengan penemuan terbanyak, yakni 15 jenazah dalam satu hari. Berikut data perkembangan harian pencarian korban:
Rabu (1/10): 3 jenazah ditemukan
Kamis (2/10): 2 jenazah ditemukan
Jumat (3/10): 9 jenazah ditemukan
Sabtu (4/10): 11 jenazah ditemukan
Minggu (5/10): 15 jenazah ditemukan
Seiring bertambahnya area reruntuhan yang berhasil dibuka, efektivitas pencarian meningkat signifikan. Selain jenazah utuh, tim juga menemukan empat potongan tubuh manusia yang diduga milik korban. Namun, proses identifikasi lebih lanjut akan dilakukan oleh tim Disaster Victim Identification (DVI) untuk memastikan identitas korban secara ilmiah.
Dengan ditemukannya korban terbaru, jumlah santri yang masih dinyatakan hilang kini berkurang menjadi 23 orang, berdasarkan data absensi resmi pondok. Namun, pihak BNPB menegaskan bahwa angka tersebut belum final, karena ada kemungkinan beberapa santri tidak melapor kehadiran meski selamat.
Operasi pencarian yang telah berlangsung selama tujuh hari sejak insiden terjadi akan diperpanjang, mengingat seluruh korban belum ditemukan.
“Sejak hari keempat tidak ada lagi tanda kehidupan. Fokus pencarian kini sepenuhnya pada evakuasi jenazah,” ujar Abdul Muhari.













