Menurut Meutya, keberadaan jaringan telekomunikasi di situasi darurat memiliki peran strategis. Akses komunikasi menjadi penopang utama keselamatan warga, memperlancar koordinasi penyaluran bantuan, mempercepat layanan darurat, serta membantu pemulihan aktivitas sosial dan ekonomi secara bertahap.
Pemerintah pun menyampaikan apresiasi kepada para operator telekomunikasi, teknisi lapangan, dan seluruh pihak yang terlibat dalam proses pemulihan. Di tengah keterbatasan infrastruktur dan risiko di lapangan, mereka tetap bekerja memastikan masyarakat dapat kembali terhubung.
Tak hanya Aceh, pemulihan jaringan telekomunikasi di wilayah lain yang terdampak bencana juga menunjukkan hasil menggembirakan. Sumatra Barat mencatat pemulihan BTS hingga 99,14 persen, sementara Sumatra Utara mencapai 97,35 persen per Jumat (19/12/2025).
Pemerintah memastikan proses pemulihan konektivitas akan terus dipantau dan diperbarui secara berkala hingga seluruh wilayah terdampak benar-benar kembali terlayani secara optimal. Pemulihan jaringan ini diharapkan menjadi fondasi penting bagi percepatan pemulihan kehidupan masyarakat pascabencana.












