“Anda semua adalah juara sejati. Satu anak SD di sini bisa mengalahkan 2.500 peserta lain, dan satu anak SMP mampu menyisihkan lebih dari seribu peserta. Ini bukti nyata talenta hebat Indonesia,” tegasnya.
Mariman juga menyoroti hasil survei yang menunjukkan dorongan orang tua masih lebih condong pada prestasi ketimbang pembentukan karakter. “Padahal, kita berharap pembentukan karakter menjadi fondasi utama. Prestasi itu lahir karena karakternya,” ujarnya.
Ia pun kembali menekankan pentingnya tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat yang digagas Menteri Pendidikan sebagai bekal membangun generasi mandiri, tangguh, dan berdaya saing.
Dalam kesempatan yang sama, Mariman menyinggung perlunya sinergi ekosistem pendidikan, sekolah, orang tua, hingga media dalam membangun budaya juara.
“Lingkungan atau ekosistem juara itu harus kita ciptakan. Peran media menjadi sangat penting agar anak-anak kita tersosialisasikan profil kejuaraannya, sehingga mampu menjadi teladan bagi generasi lain,” katanya.
OSN 2025 diharapkan melahirkan lebih dari sekadar siswa berprestasi. Ajang ini menjadi wadah pembentukan karakter positif, rasa percaya diri, serta semangat kolaborasi antarpelajar dari berbagai daerah. Selain itu, OSN juga memperkuat budaya ilmiah di sekolah, memperkaya jejaring antar siswa, serta membuka peluang bagi mereka untuk berkompetisi di tingkat internasional.
Komitmen Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah melalui OSN 2025 menjadi bukti bahwa pendidikan di Indonesia terus diarahkan untuk menghasilkan generasi unggul, berilmu, berkarakter, dan siap mengharumkan nama bangsa di kancah global.












