News  

Menteri PPPA Buka Ruang Dialog dengan Anak Muda

Menteri PPPA Buka Ruang Dialog dengan Anak Muda. Foto: kemen PPPA

Sepanjang dialog, para peserta berdiskusi dalam kelompok untuk membahas isu prioritas menuju Indonesia Emas 2045. Beragam masukan disampaikan, mulai dari penguatan literasi digital, keamanan ruang daring, kesehatan mental, hingga dampak perubahan iklim terhadap kehidupan anak.

Menanggapi hal tersebut, Menteri PPPA memastikan bahwa setiap masukan akan menjadi bagian penting dalam penyusunan kebijakan ke depan.

“Dialog seperti ini tidak boleh berhenti pada satu pertemuan, tetapi harus terus berlanjut sebagai ruang terbuka bagi anak untuk menyampaikan suara dan mengawal perubahan,” ungkap Arifah.
“Ini bukan acara seremonial, tetapi awal gerak bersama agar kebijakan benar-benar bersumber dari suara anak.”

CEO Save the Children Indonesia, Dessy Kurwiany Ukar, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya dialog yang memberikan ruang aman dan informal bagi anak-anak untuk berbicara secara lepas.

“Yang terpenting bagi kami adalah mendengarkan kata teman-teman semua. Anak-anak punya ide-ide hebat dan justru di sanalah kunci solusi dari banyak permasalahan yang sering dibicarakan orang dewasa,” ujar Dessy.

Ia menegaskan bahwa kebutuhan, harapan, dan perspektif anak harus menjadi fondasi utama dalam setiap program yang dirancang untuk mereka.

Dalam kesempatan yang sama, Bayu, anak muda asal Pulau Simeulue, berbagi pengalamannya mengembangkan inovasi sosial di daerah. Ia menilai ruang temu antar anak dari berbagai wilayah sangat penting untuk memperluas dampak inovasi.

“Banyak inovasi anak-anak yang sudah berjalan, bukan hanya ide. Tinggal bagaimana inovasi ini bisa diketahui dan direplikasi oleh teman-teman di daerah lain,” kata Bayu.

Ia juga menyoroti perlunya penyederhanaan informasi kebijakan agar lebih mudah dipahami anak.

“Program pemerintah itu banyak dan seringkali tidak mudah dimengerti anak. Kalau dibuat lebih sederhana, anak-anak bisa memberi insight yang lebih tajam dan relevan,” tambahnya.

Dialog ini diikuti oleh anak dan remaja dari berbagai latar belakang komunitas, di antaranya Digital Youth Council, Children and Youth Advisory Network, Forum Anak Daerah Jakarta, Forum Anak Nasional, Forum Remaja Palang Merah Indonesia, kelompok anak ICT Watch, Yayasan Sejiwa, hingga komunitas kreator dan developer perempuan Indonesia di Roblox (KARIS).

Related Images:

Follow WhatsApp Channel My Info untuk update berita terkini setiap hari! Follow